10 Agustus 2015

Lagu "Tresna Waranggana" dan Pedihnya Kasih Tak Sampai

Cerita pilu tentang ketidakberdayaan melawan takdir dari Yang Kuasa, termasuk dalam hal cinta, seringkali menarik untuk disimak. Dan kali ini saya akan sedikit mengulas tentang lagu Tresna Waranggana yang belakangan ini banyak diputar/dimainkan di acara-acara hiburan di sela-sela resepsi pernikahan di banyak daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Waranggana dalam pertunjukkan wayang. (Foto: anangsk.wordpress.com)
Lagu Tresna Waranggana diciptakan oleh Nur Bayan, seorang seniman musik asal Kediri yang juga menggubah lagu-lagu seperti Pokoke Joget dan Oplosan yang sempat populer beberapa waktu yang lalu. Tresna berarti cinta dan waranggana berarti pesinden. Tresna Waranggana berkisah tentang kisah kasih tak sampai seorang laki-laki kepada wanita yang berprofesi sebagai pesinden (waranggana). Waranggana berasal dari kata wara, yaitu seseorang yang berjenis kelamin wanita dan anggana yang berarti sendiri. Zaman dulu, waranggana adalah satu-satunya wanita di acara pegelaran wayang atau panggung klenengan. Seiring berkembangnya zaman, makna waranggana ini perlahan mulai meluas. Tak hanya sinden dalam acara wayang saja yang bisa disebut waranggana, namun para penyanyi campursari di acara-acara pernikahan pun ada yang saat ini menyebutnya dengan sebutan waranggana.

Untuk mengetahui maksud harfiah lagu tersebut, berikut saya terjemahkan lagu Tresna Waranggana ke dalam bahasa Indonesia. Silakan disimak.

Nelongsa rasa-rasane, tangis njroning atiku
(Nelangsa rasa-rasanya, tangis dalam hatiku)
Yen kelingan esem gemuyumu
(Bila teringat senyum dan tawamu)
Laras swara gendhing tresna gawe kangene atiku
(Suara merdu lagu cinta membuat rindunya hatiku)
Tansah eling aku ro sliramu
(Selalu ingat aku akan dirimu)

Duh Kangmas, sak tenane aku ngerti atimu
(Duh Kangmas, sebenarnya aku tahu hatimu)
Ning wis pastine aku du jodhomu
(Tapi sudah pasti aku bukan jodohmu)
Pancen rasa kari rasa
(Memang rasa tinggal rasa)
Kudu lila nggonmu nrima
(Harus rela dirimu menerima)
Lilakna aku nyandhing priya liya
(Relakan aku bersanding (dengan) pria lain)

Ra kerasa wis sewindu nggonku ora ketemu
(Tanpa terasa sudah sewindu aku tidak bertemu)
Kegugah atiku krungu swaramu
(Tergugah hatiku mendengar suaramu)
Aku mung bisa dedonga waranggana sing tak tresna
(Aku hanya bisa berdoa, waranggana yang kucinta)
Muga bisa urip tentrem mulya
(Semoga bisa hidup tenteram mulia)

Tak tulis lakon tresnamu ing gendhing katresnanku
(Kutulis cerita cintamu dalam lagu cintaku)
Tak tembangne saben kangen sliramu
(Kunyanyikan setiap rindu dirimu)
Sak tenane aku nangis, nanging tresna wis ginaris
(Sesungguhnya aku menangis, namun cinta sudah tergaris (ditakdirkan))
Taklakoni kanti ikhlas ati
(Kujalani dengan ikhlas hati) 

Wuyungku ngelayung ngembara ing awang-awang
(Asmaraku melayang mengembara di angkasa)
Tanpa bisa nyanding aku mung bisa nyawang
(Tanpa bisa bersanding aku hanya bisa menyaksikan)
Tumetes eluhku mbrebes mili ana pipi
(Menetes air mataku jatuh mengalir di pipi)
Apa tresna iku pancen ra kudu nduweni
(Apakah cinta itu memang tak harus memiliki)

Wis lilakna aku Kangmas, wis cukup lalekna
(Sudah relakan aku Kangmas, sudah cukup lupakan)
Lelakon tresna iki bakal dadi crita tresna waranggana
(Perjalanan cinta ini akan menjadi cerita tresna waranggana)

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini