13 November 2015

08 September 2015

Oblak itu Datang dari Shockbreaker Depan

Pada tulisan terdahulu, saya pernah curhat tentang sensasi ‘oblak’ yang saya rasakan pada Supra X 125 saya, bahkan setelah saya mengganti komstirnya dengan yang original. Hari Minggu (6/9) kemarin bertepatan dengan waktu untuk servis rutin di bengkel, saya pun meminta sang mekanik untuk sekalian mengecek shockbreaker depan HSX 125 saya.

Setelah spakbor depan dibuka, terlihat rembesan oli yang terdapat pada as shock depan sebelah kanan. Setelah semua komponen dibuka barulah terlihat goresan kecil pada tabung asnya. Inilah celah yang membuat oli shockbreaker merembes dan membuat volume oli berkurang sehingga shockbreaker menjadi tidak seimbang. Dan ketidakstabilan inilah yang membuat shockbreaker seperti oblak, mirip dengan oblaknya komstir.

Penjelasan Sang Mekanik, goresan pada as shockbreaker depan ini biasanya disebabkan karena kotoran (umumnya pasir) yang menyusup ke dalam sil dalam waktu yang cukup lama. Mungkin karena posisinya yang tertutup spakbor, bagian ini sering luput dari perhatian. Kalau sudah begini, mau tidak mau memang harus dilakukan penggantian dengan tabung as yang baru. Tabung as yang bagus dan berkualitas tentu saja yang direkomendasikan oleh pabrik. Berhubung harganya yang masih selangit dan saya memang tidak menyiapkan anggaran khusus untuk servis kali ini, opsi saya jatuhkan pada tabung as merek TSENG buatan Tiongkok dengan harga Rp95.000 sepasang.

Setelah semua part dipasang kembali, memang benar sensasi oblak itu pun hilang dan handling jadi lebih stabil. Meski bukan original part, kesan di awal penggunaan saya rasakan nyaman-nyaman saja. Tapi bagaimana setelahnya? Itulah yang ingin saya pantau berkaitan dengan kualitas merek ini. Tentunya hal ini harus dibarengi dengan perawatan yang baik pada part ini. Nantikan saja posting saya selanjutnya.

Salam!

01 September 2015

Bertahun-tahun, Traffic Light Belakang UNS Dilanggar Pengguna Jalan

Dahulu sekali, saya pernah menulis tentang traffic light di belakang UNS Solo yang diacuhkan para pengguna jalan. Ya, sejak dipasang sampai detik ini, menurut pengamatan penulis, satu-satunya traffic light yang ada di Jalan Ki Hajar Dewantoro tersebut tidak efektif dalam mengatur lalu lintas di kawasan tersebut. Pasalnya, sebagian besar pengguna jalan tidak menaati traffic light tersebut. Hanya ada beberapa pengguna jalan yang kebanyakan, menurut pantauan penulis adalah mobil berpelat nomor luar kota.
Traffic light belakang UNS dalam sebuah meme. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Memang sangat ironis, sementara kawasan tersebut adalah kawasan hunian para mahasiswa yang notabene berpendidikan. Dengan adanya fenomena tersebut, sudah cukup membuktikan bahwa tingkat kedisiplinan seseorang tidak ada kaitannya dengan tingkat pendidikan. Jadi, sampai kapan traffic light tersebut mau dilanggar?

27 Agustus 2015

Menikmati Masakan Jawa di Warung Ijo Solo

Makan siang hari ini, sengaja saya makan siang di tempat makan yang letaknya lumayan jauh dari tempat kerja saya. Pilihan saya jatuh pada sebuah tempat makan prasmanan bernama Warung Ijo yang terletak di Jalan Mr. Sartono Solo, yaitu perempatan utara SMA 5 Solo ke arah barat sekitar 100 meter. Ini adalah kali pertama saya mencoba masakan Jawa di warung ini. Rekomendasi untuk mencoba makan siang di tempat ini datang dari adik saya yang memang sudah biasa makan siang dengan menu dari warung ini.
Suasana prasmanan di Warung Ijo. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Tempatnya cukup bersih dan luas untuk ukuran warung makan. Karena saya datang di saat jam makan siang, maka suasana warung pun cukup ramai dengan konsumen yang sedang makan siang. Pilihan menu makan di warung ini juga terbilang komplit. Jadi meski Anda datang hampir setiap hari ke tempat ini, Anda tidak akan merasa jenuh dengan menu dan lauknya. Soal rasa, Anda tak perlu risau. Dalam skala 0 – 10, saya beri nilai 8,5 untuk urusan rasa di warung ini. Harganya pun cukup terjangkau. Penasaran? Silakan Anda mencoba!

24 Agustus 2015

"Jateng Gayeng", Branding Baru Jawa Tengah

Minggu 23 Agustus 2015 kemarin, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, resmi meluncurkan branding baru Jawa Tengah, yaitu Jateng Gayeng. Gayeng adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti seru atau semarak. Slogan Jateng Gayeng tersebut mempunyai makna bersemangat, berani, tangguh, jujur, ramah, menggembirakan, dan harmonis. Slogan baru tersebut ditetapkan oleh Pemprov Jawa Tengah bekerja sama dengan tim branding Jawa Tengah untuk mempromosikan dan memasarkan berbagai potensi yang dimiliki Jawa Tengah.
Jateng Gayeng. (Foto: Twitter)
Seperti kita tahu, bahwa beberapa waktu yang lalu Pemprov Jateng telah menggelar Lomba Logo dan Tagline Jawa Tengah, dan slogan Jateng Gayeng inilah yang keluar sebagai pemenang. Slogan dan logo Jateng Gayeng adalah karya Tonny Subagyo warga Depok Jawa Barat.

Salam #JatengGayeng

Helloween Live in Solo (2015)

Tersiar kabar lewat situs total-metal.info bahwa kelompok metal asal Jerman, Helloween akan menggelar konsernya di Jakarta dan Solo bulan Oktober mendatang. Dan berikut saya berikan info seputar konser Helloween di Solo, tepatnya di kawasan Solo Baru, Sukoharjo.

Hari
Sabtu, 24 Oktober 2015 jam 17.00 WIB - selesai

Lokasi
The Park Mall Solo Baru, Sukoharjo, Jl. Ir. Soekarno Solo Baru, Sukoharjo.

Harga Tiket
Pre-sale Rp200.000 (dijual dari tanggal 24 Agustus - 24 September)
Normal Rp250.000 (dijual dari tanggal 25 September - 24 Oktober)
*tiket sudah termasuk pajak

Tiket Box (Offline)
Solo
82 Music Studio
Jl. Letjend Soetoyo No. 120 (0896-0821-9239 / BB: 59447FBB)

Jogja
Universal Intertainment
Jl. Gejayan No. 10 (0857-3667-7884)

Semarang
Cruiser Handphone & Computer Solution
Matahari Plasa Simpang 5, Lantai 2 (Mbah Jenggot: 0857-1317-5952)

Wonogiri
Godzilla Rock Shop
Ruko Taman Selogiri No. A36, Selogiri (0857-1383-9136 / BB: 7DE01B24)

Update:
Konser Helloween yang sedianya akan digelar di Solo, belakangan dipindah venue ke Lap. Parkir Stadion Maguwoharjo. Informasinya silakan klik di sini.



19 Agustus 2015

Lo Siaw Ging dan Pesan Bijak Sang Ayah

"Kalau pingin kaya jangan jadi dokter, jadilah pedagang. Sebaliknya, kalau jadi dokter ya jangan dagang."
Itulah pesan Lo Ban Tjiang kepada Lo Siaw Ging muda, sosok dokter yang saat ini dikenal karena kedermawanannya oleh masyarakat kota Solo dan sekitarnya. Memang begitu penuh pesan moral kata-kata tersebut. Kalau ingin menjadi kaya, maka berdaganglah karena berdagang itu ada itung-itungan untung dan ruginya. Dan sebaliknya bila ingin jadi dokter ya harus sepenuhnya mengabdi pada sesama, tidak berdasarkan pada untung rugi atau hasil yang melimpah. Kurang lebih itulah maksud dari pesan tersebut. 
Dokter Lo. (Foto: instagram.com/santuarie)
Profesi sebagai seorang dokter dewasa ini secara otomatis dapat mendongkrak status seseorang lantaran penghasilannya yang bisa dikatakan cukup besar. Sekali memeriksa pasien, umumnya seorang dokter umum akan ‘memasang tarif’ minimal Rp50.000,-. Namun tidak begitu dengan Dokter Lo. Rupanya pesan dari Sang Ayah benar-benar dia tanamkan kuat dalam menjalankan profesinya. Di era di mana banyak hal dihitung berdasarkan untung rugi seperti sekarang ini, rasanya pesan bijak dari Lo Ban Tjiang tersebut layak kembali kita resapi maknanya, terutama bagi para dokter muda atau calon dokter.

Berani?

11 Agustus 2015

Mengenal Sekilas Sejarah Paskibraka

Bulan Agustus bagi bangsa Indonesia merupakan bulan yang istimewa. Pasalnya di bulan Agustus-lah, perayaan peringatan Hari Kemerdekaan digelar. Ada banyak fenomena unik yang menyertai perayaan peringatan Hari Kemerdekaan RI ini, di antaranya maraknya pemasangan atribut merah putih di tempat-tempat umum seperti kantor, pasar, mall, dan sebagainya. Selain itu kita juga banyak menjumpai aneka kegiatan yang digelar untuk menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan RI ini, mulai dari berbagai lomba, sampai latihan persiapan upacara peringatan kemerdekaan.

Nah, salah satu hal yang juga lekat dengan perayaan Hari Kemerdekaan adalah Paskibraka, kependekan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Paskibraka mempunyai tugas utama yaitu mengibarkan tiruan bendera pusaka dalam upacara peringatan Hari Kemerdekaan di tiga tingkat/tempat, yaitu di tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan pusat. Para anggota Paskibraka berasal dari pelajar kelas 1 dan 2 SMA/sederajat. Sedangkan seleksi anggota Paskibraka umumnya dilaksanakan di bulan April setiap tahunnya.

Sejarah
Ide berdirinya Paskibraka muncul sekitar tahun 1946. Pada saat ibu kota negara dipindahkan ke Yogyakarta. Kala itu Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, yaitu Mayor Laut Husein Mutahar untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta. Dari situlah kemudian Mayor Husein mempunyai gagasan bahwa alangkah baiknya bila pengibaran bendera pusaka dilakukan oleh para pemuda sebagai generasi penerus bangsa nantinya. Namun saat itu, karena keterbatasan, Mayor Husein Mutahar hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal dari berbagai daerah yang kebetulan sedang berada di Yogyakarta. Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak saat itu sampai dengan tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara yang sama.
Paskibraka 2014. (Foto: sumitremade.wordpress.com)
Ketika ibu kota dikembalikan ke Jakarta pada tahun 1950, Mayor Husein tidak lagi menangani pengibaran bendera pusaka di Istana Merdeka, namun ditangani oleh rumah tangga kepresidenan sampai tahun 1966. Dan selama periode tersebut para pengibar bendera diseleksi dari para pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.

Tahun 1967, Presiden Soekarno kembali mengutus Mayor Husein untuk menangani pengibaran bendera pusaka. Dengan konsep dasar awal tahun 1946, Mayor Husein kemudian menyempurnakan formasi pengibar bendera menjadi 3 kelompok, yaitu Pasukan 17 sebagai pengiring/pemandu; Pasukan 8 sebagai pembawa bendera (pasukan inti); dan Pasukan 45 sebagai pengawal. Nama Paskibraka sendiri baru digunakan pada tahun 1973 berkat ide dari Idik Sulaeman, adik didik dari Mayor Husein.

Itulah sepenggal sejarah terbentuknya Paskibraka, semoga memberikan wawasan dan dirgahayu Indonesiaku!

Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia

10 Agustus 2015

Lagu "Tresna Waranggana" dan Pedihnya Kasih Tak Sampai

Cerita pilu tentang ketidakberdayaan melawan takdir dari Yang Kuasa, termasuk dalam hal cinta, seringkali menarik untuk disimak. Dan kali ini saya akan sedikit mengulas tentang lagu Tresna Waranggana yang belakangan ini banyak diputar/dimainkan di acara-acara hiburan di sela-sela resepsi pernikahan di banyak daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Waranggana dalam pertunjukkan wayang. (Foto: anangsk.wordpress.com)
Lagu Tresna Waranggana diciptakan oleh Nur Bayan, seorang seniman musik asal Kediri yang juga menggubah lagu-lagu seperti Pokoke Joget dan Oplosan yang sempat populer beberapa waktu yang lalu. Tresna berarti cinta dan waranggana berarti pesinden. Tresna Waranggana berkisah tentang kisah kasih tak sampai seorang laki-laki kepada wanita yang berprofesi sebagai pesinden (waranggana). Waranggana berasal dari kata wara, yaitu seseorang yang berjenis kelamin wanita dan anggana yang berarti sendiri. Zaman dulu, waranggana adalah satu-satunya wanita di acara pegelaran wayang atau panggung klenengan. Seiring berkembangnya zaman, makna waranggana ini perlahan mulai meluas. Tak hanya sinden dalam acara wayang saja yang bisa disebut waranggana, namun para penyanyi campursari di acara-acara pernikahan pun ada yang saat ini menyebutnya dengan sebutan waranggana.

Untuk mengetahui maksud harfiah lagu tersebut, berikut saya terjemahkan lagu Tresna Waranggana ke dalam bahasa Indonesia. Silakan disimak.

Nelongsa rasa-rasane, tangis njroning atiku
(Nelangsa rasa-rasanya, tangis dalam hatiku)
Yen kelingan esem gemuyumu
(Bila teringat senyum dan tawamu)
Laras swara gendhing tresna gawe kangene atiku
(Suara merdu lagu cinta membuat rindunya hatiku)
Tansah eling aku ro sliramu
(Selalu ingat aku akan dirimu)

Duh Kangmas, sak tenane aku ngerti atimu
(Duh Kangmas, sebenarnya aku tahu hatimu)
Ning wis pastine aku du jodhomu
(Tapi sudah pasti aku bukan jodohmu)
Pancen rasa kari rasa
(Memang rasa tinggal rasa)
Kudu lila nggonmu nrima
(Harus rela dirimu menerima)
Lilakna aku nyandhing priya liya
(Relakan aku bersanding (dengan) pria lain)

Ra kerasa wis sewindu nggonku ora ketemu
(Tanpa terasa sudah sewindu aku tidak bertemu)
Kegugah atiku krungu swaramu
(Tergugah hatiku mendengar suaramu)
Aku mung bisa dedonga waranggana sing tak tresna
(Aku hanya bisa berdoa, waranggana yang kucinta)
Muga bisa urip tentrem mulya
(Semoga bisa hidup tenteram mulia)

Tak tulis lakon tresnamu ing gendhing katresnanku
(Kutulis cerita cintamu dalam lagu cintaku)
Tak tembangne saben kangen sliramu
(Kunyanyikan setiap rindu dirimu)
Sak tenane aku nangis, nanging tresna wis ginaris
(Sesungguhnya aku menangis, namun cinta sudah tergaris (ditakdirkan))
Taklakoni kanti ikhlas ati
(Kujalani dengan ikhlas hati) 

Wuyungku ngelayung ngembara ing awang-awang
(Asmaraku melayang mengembara di angkasa)
Tanpa bisa nyanding aku mung bisa nyawang
(Tanpa bisa bersanding aku hanya bisa menyaksikan)
Tumetes eluhku mbrebes mili ana pipi
(Menetes air mataku jatuh mengalir di pipi)
Apa tresna iku pancen ra kudu nduweni
(Apakah cinta itu memang tak harus memiliki)

Wis lilakna aku Kangmas, wis cukup lalekna
(Sudah relakan aku Kangmas, sudah cukup lupakan)
Lelakon tresna iki bakal dadi crita tresna waranggana
(Perjalanan cinta ini akan menjadi cerita tresna waranggana)

28 Juli 2015

"Mboyak Gene"

Entah, sudah berapa lama saya tidak mendengar kata mboyak digunakan orang dalam keseharian di lingkungan saya. Kata mboyak adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti biarin aja (whatever).
Mboyak. (Foto: youtube.com)
Kata mboyak biasa digunakan oleh penduduk di sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Sragen, Ngawi, dan sekitarnya. Kata mboyak merupakan ungkapan tak mau ambil pusing terhadap masalah yang sedang dihadapi. Kata mboyak biasanya dirangkai dengan kata gene, sehinga menjadi mboyak gene.

24 Juli 2015

Ganti Komstir Baru, Tapi Masih Oblak?

Setelah saya pakai nganter saudara berbelanja 25 kilogram daging ayam pascalebaran kemarin, saya merasakan oblak pada komstir Supra X 125 saya. Sensasi oblak seperti ini sebenarnya bukan sekali ini saya rasakan. Sebelum-sebelumnya juga pernah saya merasakannya dan solusinya adalah disetel ulang kekencangannya. Karena sudah jenuh untuk nyetel-nyetel ulang, saya pun berniat untuk mengganti komstir Supra x 125 saya. Mumpung ada duit.

Singkat cerita saya pun berkonsultasi ke sebuah bengkel di deket tempat kerja saya. Mereka membanderol Rp115.000 untuk harga komstir AHM sekaligus ongkos memasangnya. Nah, jadilah waktu jam istirahat kerja kemarin (23/07) saya antar Supra X 125 saya ke bengkel tersebut yang hanya berjarak sekitar 100-an meter. Karena saya harus kembali bekerja, maka si Supra pun saya tinggal di bengkel baru sorenya kemudian saya ambil.

Sepulang kerja, saya kembali menyambangi bengkel tersebut dengan berjalan kaki. Saat itu sang mekanik telah selesai memasang komstir untuk Supra X 125 saya. Dan ternyata, komstir yang terpakai selama ini di Supra X 125 saya bukanlah komstir asli dari AHM. Pantas saja selalu bermasalah. Setelah selesai memasang dan disetel, gejala oblak sudah tidak ada lagi. Dan saya pun pulang ke rumah. 

Konstir AHM. (Foto: anggiwirza.wordpress.com)
Setelah sampai di rumah, saya iseng mengetes kembali komstir Supra X 125 saya dengan cara menekan rem depan dan menekan kemudi sampai shockbreaker depan tertekan. Dan, “klek” bunyi itu muncul lagi. Nah lo, apa-apaan ini? Berbagai pertanyaan pun muncul sampai pada lahirnya tulisan ini. Meski sudah menggunakan komstir baru nan ori ternyata hal tersebut tidak serta merta mengatasi masalah oblak pada komstir. Dan sampai berita ini diturunkan saya belum mengkonsultasikannya kembali ke bengkel.

Mungkin ada yang bisa menjelaskan fenomena tersebut?

24 Juni 2015

Selamat Ulang Tahun, Putraku

Hari ini tepat setahun yang lalu, buah hati saya, Muhammad Erlangga Kurniawan hadir di dunia. Rasanya baru kemarin saya merasakan diri menjadi seorang ayah. Tapi faktanya sudah 1 tahun status seorang ayah dengan tanggung jawabnya, saya sandang. 

Di usianya yang menginjak 1 tahun ini, Elang (panggilan Erlangga) sedang giat-giatnya berlatih berjalan. Ia sudah fasih berdiri sendiri dan mulai bisa melangkah 3-4 langkah, lalu kemudian terduduk kembali. Kami memang sengaja jarang untuk menetahnya, dengan tujuan agar dirinya berusaha sendiri dan percaya diri. Selain belajar berjalan, ia pun sudah mulai belajar berbicara dan mengucapkan kata-kata. Memang, kami selalu mengajaknya berdialog di setiap kesempatan agar ia mendengar dan kemudian bisa mengucapkan kata-kata yang kami ajarkan.
Erlangga baru-baru ini. (Foto: Arie Kurniawan)
Itulah sedikit cerita yang bisa saya bagi tepat di hari kelahiran putra saya. Semoga Allah senantiasa memberikan kami sekeluarga kesehatan, rezeki, dan berkah yang melimpah. Selamat ulang tahun Elang, sehat selalu ya, Nak.

09 Juni 2015

Asal Mula Nama Jalan Punk Rock, ISI Surakarta

Di kawasan Institut Seni Indonesia Surakarta, ada sebuah jalan yang dikenal dengan nama Jalan Punk Rock. Jalan ini menghubungkan antara perempatan Sekarpace dengan Jalan KH Dewantara, Kentingan. Pemakaian nama Punk Rock sendiri, menurut kesaksian penulis telah berlangsung sejak lama, kira-kira sekitar tahun 90-an awal atau bahkan 80-an akhir.
Jalan Punk Rock, kawasan ISI Surakarta. (Foto: gambar-rumah.com)
Menurut salah seorang teman saya yang tinggal di kawasan tersebut, nama Punk Rock diambil dari kata pungkruk di mana nama itulah yang menjadi nama asli jalan tersebut. Kata pungkruk berasal dari kata mungkruk yang artinya kurang lebih tanah yang agak tinggi. Benar saja, sebab jalan tersebut memang naik turun karena tanahnya yang mungkruk.

Lalu, dari mana istilah punk rock? Mungkin karena yang tinggal di sepanjang jalan tersebut pada waktu itu (dan sampai sekarang) anak-anak kos/mahasiswa, makanya mereka berinisiatif mencari istilah yang kebih keren untuk kata pungkruk, jadilah nama punk rock ini.

Ada pendapat/fakta lain? Monggo dibagi di kolom komentar.

21 Mei 2015

Mengganti Sakelar Headlamp Honda Supra X 125

Sabtu (16/5) kemarin, akhirnya berkesempatan juga mengganti sakelar headlamp Honda Supra X 125 milik saya. Sebelumnya, sudah sekitar 2 bulanan ini sakelar untuk lampu dekat bermasalah, yaitu kadang putus kadang nyambung dengan sendirinya, sehingga bila lampu dekat sedang digunakan riding, maka headlamp akan byar-pet, kadang mati kadang nyala.
Ilustrasi sakelar headlamp. (Foto: aripitsop.com)
Setelah Sabtu siang kemarin mencari part-nya di bengkel langganan, saya pun mencoba menggantinya sendiri. Caranya cukup mudah. Kita tidak perlu membuka cover headlamp bagian belakang, cukup dengan menggunakan kawat pipih (obeng kecil) untuk membuka pengunci yang ada di bagian dalam. Congkellah menggunakan kawat/obeng pipih pelan-pelan pada sisi sebelah kiri Anda. Setelah sakelar berhasil tercongkel, cabut kabelnya dan hubungkan dengan sakelar yang baru. Selanjutknya dicek dahulu bagaimana kinerjanya. Setelah semua masalah teratasi, barulah pasang kembali sakelar baru tersebut sampai ada bunyi klik mengunci. Mudah bukan?

15 Mei 2015

Oli Transmisi Motor Matik, Sepele Namun Vital

Akhirnya, bisa posting lagi setelah sekian lama paceklik tulisan. Langsung saja, pada postingan kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai oli transmisi atau biasa disebut oli gardan atau gear oil pada motor matik. Kebetulan kemarin (14/05), saya berkesempatan menganti oli mesin Si Matik kepunyaan istri saya, Honda BeAT FI tahun 2014 yang memang sudah waktunya ganti oli mesin sekaligus oli transmisinya
(Foto: federaloil.co.id)
Untuk penggantian oli transmisi pada motor matik, biasa diganti setiap dua kali penggantian oli mesin atau setiap 4000 km, bisa juga 5000 km sesuai penggunaan motor. Untuk oli mesin Si Matik, biasa saya pakaikan Federal Matic ukuran 800 ml dan untuk oli transmisi, sengaja saya samakan mereknya, yaitu Federal Gear Oil ukuran 120 ml. Di bengkel langganan saya, JAYA Motor yang terletak di kawasan Pasar Nongko, kota Solo, total dua jenis oli tersebut saya tebus dengan selembar rupiah berwarna biru, sudah termasuk biaya penggantian.

Setelah kedua jenis oli tersebut terganti, benar-benar ada perbedaan pada performa Si Matik. Tarikannya benar-benar terasa beda. Oli transmisi adalah oli yang mempunyai fungsi melumasi gear-gear transmisi pada motor matik. Pelumasan yang baik pada part-part ini tentu akan memperhalus suara matik Anda dan menjaga keawetan part-part tersebut. Jadi untuk Anda pengguna motor matik, jangan lupa untuk mengganti rutin kedua jenis oli tersebut.

06 Mei 2015

I’m Still a Blogger

Seorang blogger tak selamanya produktif dalam hal tulisan (post) dalam blognya. Dan menurut saya, pasang surut dalam hal tersebut adalah wajar. Seperti yang saya alami beberapa bulan belakangan ini. Ada banyak hal yang membuat aktivtias posting saya menurun, dan yang utama adalah kesibukan dalam hal pekerjaan di tempat kerja saya yang baru.
Blogging (Foto: http://dalerodgers.co.uk)
Semenjak ngantor di tempat kerja saya yang baru, perhatian dan fokus memang lebih banyak saya berikan ke pekerjaan saya. Maklum karyawan baru, memantapkan posisi di pekerjaan yang baru tentu menjadi prioritas utama. Setelah kurang lebih 5 bulan melakukan penyesuaian dan fokus ke pekerjaan dan lingkungan kerja, pelan pasti saya menemukan gairah kembali untuk posting lagi. Dan saya rasa inilah momentum yang tepat. Pernyataan “I’m still a blogger” di atas, sengaja saya jadikan judul postingan ini, agar jiwa saya kembali tergugah dan bergairah. Banyak hal memang yang terlewatkan selama kurang lebih lima bulan ini dan tak sempat terabadikan menjadi postingan (meski ada satu-dua moment yang tetap saya postingkan). Tapi begitulah, seorang blogger dengan pasang surutnya. Doakan ya, saya produktif lagi.

17 Februari 2015

Membuktikan Keunggulan Rantai Motor Indopart

Sabtu malam kemarin sewaktu pulang kerja, ketika masuk gang di deket rumah, saya merasa ada suara tak diinginkan yang muncul dari rantai (chain drive) motor Supra X 125 saya. Suara yang bagi saya tidak begitu asing, dan bisa saya duga apa penyebabnya.

Setelah sampai di rumah, saya pun buru-buru mengeceknya, dan ternyata rantai motor saya sudah sedikit mengendur (melar). Pemakaian hampir setiap hari yang menempuh jarak sekitar 70 km membuat rantai non-original di motor saya mengalami keausan, dan solusinya mau tidak mau saya harus menggantinya. 

Seperti biasa, untuk menindaklanjuti kasus tersebut, saya pun mulai mengadakan riset kecil-kecilan via Google, dengan mencari informasi mengenai merek rantai non-original yang recommended. Setelah banyak membaca testinomi dari para biker maupun rider, ketemulah satu merek yang kata banyak orang cukup berkualitas dengan harga yang terbilang murah tentunya, yaitu Indopart.
ilustrasi rantai motor. (Foto: gambar.otomotifnet.com)
Maka, siang kemarin saat istirahat ngantor, segera saya meluncur ke bengkel langganan saya di kawasan Pasar Nongko, Solo yang memang tak jauh dari kantor saya, untuk menanyakan part tersebut. Dan ternyata tersedia, baik yang satu paket dengan gear depan dan belakang maupun yang ketengan (dijual rantainya saja).

Setelah berkonsultasi sedikit dengan mekanik di bengkel tersebut tentang kondisi gear motor saya, akhirnya diputuskan untuk mengganti rantainya saja. Maka, dengan harga yang terbilang murah, yaitu Rp65.000,- 'suara menganggu' yang mulai muncul Sabtu malam tersebut pun raib.

Lalu bagaimana dengan kualitasnya? Itulah yang sedang ingin saya buktikan. Semoga memang benar-benar berkualitas. Tunggu saja post kelanjutannya.

28 Januari 2015

Akhirnya Ganti Bohlam

Berhubung sudah hampir 2 minggu ini selalu pulang malam karena harus lembur sampai jam 8, maka timbul ide untuk mengganti bohlam headlamp pada Supra X 125 saya untuk mendapatkan pencahayaan yang lebih terang saat pulang kerja. Setelah googling untuk membaca beberapa referensi, maka saya putuskan untuk menggantinya dengan bohlam halogen bening merek OSRAM dengan watt yang agak lebih besar dibanding bohlam yang terpasang sebelumnya, STANLEY 25 watt.
OSRAM Original. (Foto: tokopedia.net)
Maka sepulang lembur kemarin malam, saya sempatkan untuk mampir di sebuah bengkel yang buka sampai malam, tepatnya di sebuah bengkel dekat perlintasan kereta api Pasar Nongko, Solo untuk membeli bohlam tersebut. Dan ternyata di bengkel tersebut tersedia, bohlam OSRAM 35 watt kaca bening dihargai Rp15.000,- plus ongkos memasangnya Rp5.000,-. Malam itu juga langsung saya coba sambil berkendara pulang dan hasilnya sampai saat ini cukup memuaskan. Semoga saja akan begitu untuk hari-hari selanjutnya.

Bohlam halogen OSRAM Original memang memiliki kelebihan, yaitu cahayanya lebih terang dan fokus seperti bohlam standar, hanya saja bohlam ini juga memiliki kekurangan, yaitu jarak lampu dekat dan lampu jauh yang yang tak terlalu besar.

Itulah sedikit pengalaman saya, semoga berguna bagi Anda yang ingin juga mengganti bohlam headlamp dengan jenis halogen. Salam.