28 Oktober 2014

"Bladu"

Tadi malam saat sedang ngobrol di kediaman seorang teman yang kebetulan letaknya tak jauh dari Sungai Bengawan Solo, mendadak ada serombongan orang lalu lalang di gang depan rumah teman saya tersebut sambil sedikit berteriak, “bladu… bladu!"
Ilustrasi ikan bladu. (Foto: republika.co.id)
Bagi Anda yang tinggal di Solo, terutama di kawasan yang dekat dengan sungai Bengawan Solo pasti sudah paham dengan istilah tersebut. Bladu adalah istilah Jawa yang berarti peristiwa keracunan massal pada ikan di sungai atau waduk. Bahasa ilmiahnya adalah upwelling. Hal ini disebabkan karena proses pembalikan lapisan air paling bawah yang rendah kadar oksigennya, namun sarat dengan zat pembusuk serta gas beracun yang selama musim kemarau mengendap di dasar sungai. Naiknya zat-zat tersebut ke permukaan dipicu oleh turunnya hujan yang pertama setelah kemarau panjang. Sehingga banyak ikan-ikan dan biota sungai yang mati/mabuk.

Bila terjadi peristiwa bladu ini, maka masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai Bengawan Solo pun tumpah ruah untuk memunguti ikan-ikan yang pingsan ini. Alat yang digunakan pun bermacam-macam, ada yang membawa jala, seser, ember, dan sebagainya. Namun bila bladu terjadi di malam hari, tentu saja lampu penerang menjadi peralatan yang utama.

Nah, itulah sedikit cerita saya mengenai fenomena bladu yang sangat dikenal oleh warga Solo di bantaran sungai. Bagaimana dengan istilah di daerah Anda?

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini