26 Agustus 2014

Tembang Dolanan dan Sebuah Kenangan

Bagi Anda masyarakat Jawa, pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah tembang dolanan. Dan otomatis benak kita akan tertuju pada sederet judul tembang dolanan seperti Cublak-Cublak Suweng, Lir-Ilir, Kupu Kuwi, Gundhul-Gundhul Pacul, dan sebagainya.
Permainan Cublak-Cublak Suweng. (Foto: mantraitemdoeloe.blogspot.com)
Tembang dolanan adalah jenis tembang Jawa baru yang biasa dinyanyikan anak-anak di pedesaan Jawa sambil bermain dengan teman-teman. Melalui tembang dolanan anak-anak dikenalkan dengan aneka binatang, tumbuh-tumbuhan, sosial masyarakat, lingkungan, dan sebagainya. Tak jarang pula tembang dolanan juga dinyanyikan dalam suasana tertentu dalam pergelaran wayang kulit.

Adapun permainan yang biasa diiringi dengan tembang dolanan adalah permainan yang berupa gerakan atau perilaku. Tembang dolanan yang biasa dinyanyikan dalam permainan tersebut di antaranya Cublak-Cublak Suweng, Sluku-Sluku Bathok, Jamuran, dan sebagainya. Tembang dolanan ada juga yang dinyanyikan tanpa dikombinasikan dengan permainan, sebagai contoh Menthok-Menthok, Oh Adhiku, Kupu Kuwi, dan sebagainya.

Bagi saya, tembang-tembang dolanan tersebut selain memiliki muatan moral yang luhur, juga ada secungkil nostalgia di sana. Masa kecil saya yang sempat diasuh oleh nenek di sebuah dusun di Kabupaten Grobogan, membuat saya cukup familiar dengan tembang-tembang dolanan tersebut. Pasalnya, dulu nenek saya memang sering menyanyikan tembang-tembang dolanan tersebut untuk saya.

Bagi Anda yang barangkali ingin menggali nostalgi kembali dengan tembang-tembang dolanan tersebut, bisa diunduh di sini. Ada 14 lagu yang bisa Anda pilih untuk diunduh.
Referensi: Wikipedia, Makalah berjudul "Pelestarian Budaya Jawa Melalui Lagu Dolanan" oleh Nurhidayati, M. Hum (FBS UNY)

2 komentar:

  1. kenapa ya Mas, kalo sesuatu yang berhubungan dengan tradisi itu identik dengan pedesaan? padahal aku gak tinggal di desa tapi ya ngalami dolanan dan nembang lho... (tapi jaman masih kecil dulu)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin ini, jika di pedesaan dolanan dan tembang tersebut diajarkan langsung melalui praktik dengan teman-teman ataupun sering dinyanyikan oleh kakek/nenek, tapi kalau di kota dolanan dan tembang tersebut sudah berbentuk kurikulum di sekolahan.

      Hapus

Komentar Terkini