28 Agustus 2014

Sejarah Perkembangan Bioskop di Kota Solo

Kota Solo tempo dulu bisa dibilang sudah menjadi ‘jantungnya Pulau Jawa’, sebab Solo kala itu sudah menjadi pusat pemberhentian penumpang kereta api yang hendak meneruskan perjalanan ke Batavia (Jakarta), Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. Kondisi tersebut mengakibatkan berkembangnya pusat-pusat hiburan di kota Solo, termasuk bioskop.

Sekitar tahun 1910-an, sebelum muncul bioskop dengan gedung permanen seperti sekarang ini, masyarakat Solo telah mengenal layar tancap, yang biasa disebut gambar sorot atau gambar hidup. Film-film yang diputar adalah film bisu, hanya gambar yang bergerak. Gambar gerak tersebut disorotkan dari proyektor ke layar, kemudian pemilik layar tancap itupun menyediakan orgel elektrik besar sebagai instrumen pengiring gambar-gambar bisu tersebut. Jika hujan turun, maka mereka pun bubar untuk menyelamatkan diri dari air hujan. 

Tak lama kemudian, muncullah bioskop tenda keliling. Bioskop tenda keliling sudah memberlakukan sistem karcis seharga 10 – 15 sen. Penduduk menamakannya ‘bioskop pes’, sebab film-film yang diputar berkaitan dengan penyakit pes di pedesaan. Film-film ini memang sengaja dikampanyekan oleh pemerintah Kolonial untuk memberi edukasi pada masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. 

Tenda bioskop dihias dengan beraneka rupa bendera dan umbul-umbul. Di salah satu sisi bagian dalam tenda, terpasang layar besar untuk memproyeksikan gambar. Sisi-sisi lainnya ditempeli poster-poster film unggulan yang hendak diputar. Lantai tenda dilapisi vloer dan dialasi semacam tikar. Bioskop tenda tempo itu telah menarik perhatian banyak masyarakat. Setiap malam, animo masyarakat untuk menyaksikanya selalu tinggi. Kala itu bioskop lazimnya tampil sebagai bagian dari sebuah gedung kesenian. Film dalam bioskop ialah salah satu bentuk pertunjukan yang ditawarkan di roemah koemedie, di samping pertunjukan konvensional seperti koemedie stamboel, tonil, dan konser orkes musik. 

Masuknya perusahaan listrik swasta NV Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM) berandil besar bagi perkembangan bioskop di kota Solo selanjutnya. Bila sebelumnya masyarakat hanya bisa menikmati hiburan berupa sekaten, wayang, ataupun tayub, setelah adanya SEM, bisnis bioskop pun semakin merebak dan diminati. Hal ini dapat docontohkan dengan berdirinya beberapa gedung bioskop seperti Bioskop Sriwedari di komplek Sriwedari, Nieuw Bioscoop di Pasar Pon, dan Schouwburg Poerbajan (yang kemudian sempat dipake sebagai Fajar Theater). Bioskop-bioskop tersebut tak hanya menarik minat penduduk Solo, namun juga telah mencuri perhatian para pejabat daerah dari Klaten, Sragen, maupun Wonogiri. 
Schouwburg Poerbajan di tahun 1900. (Foto: kitlv.nl)
Hingga sampai di tahun 1980-an, muncullah belasan gedung bioskop di segala penjuru kota Solo, antara lain Bioskop Star di Widuran, Dhady Theatre dan Ura Patria (UP) Theatre di Pasar Pon, Galaxy Theatre di jalan Purwosari, Solo Theatre di Sriwedari, Nusukan Theatre di Nusukan, Regent Theatre di Jalan Veteran, Golden Theatre di Wingko, Bioskop Trisakti, President Theatre, dan Rama Theatre (sebelah Barat Panggung Jebres), serta Bioskop Kartika di Beteng.
Bioskop Ura Patria (UP), Jl. Slamet Riyadi Solo di tahun 1979. (Foto: kitlv.nl)
Cara mempromosikan film kala itu adalah dengan memasang papan yang bertuliskan nama bioskop dan jam mainnya di titik-titik strategis di kota Solo. Di bawahnya ada lembaran yang berisi judul hingga nama-nama pemainnya. Selain itu, pihak bioskop juga mengiklankan dengan menggunakan mobil berkeliling kota. Bagian depan mobil diselimuti kain gambar film dan dilengkapi corong untuk menyiarkan judul dan bintang film. 

Di tahun 1990-an diperkenalkan konsep gedung bioskop modern yang disebut 21 (twenty one), yang kala itu diwakili oleh gedung bioskop Atrium 21 yang terletak di Solo Baru. Bioskop Atrium 21 sangat besar dengan 8 teater dan film-film yang diputar adalah film-film keluaran terbaru. Sayangnya, ketika kerusuhan Mei 1998 bioskop mewah tersebut pun dibakar massa. Meredupnya pamor gedung bioskop di Solo akhir 90-an, tepatnya pascareformasi disebabkan mulai hadirnya alternatif hiburan yang lebih murah dalam bentuk VCD, DVD, TV, dan internet. Para pengelola gedung-gedung bioskop tersebut pun mengeluhkan terbatasnya akses untuk mendapatkan film baru saat itu. Akhirnya banyak gedung bioskop di Solo yang gulung tikar.
Atrium 21 Solo Baru kala itu. (Foto: skyscrapercity.com)
Tahun 2004, mengiringi dibukanya Solo Grand Mall, sebagai mall pertama di Solo, dibuka pula Grand 21 sebagai bioskop twenty one di kota Solo. Dan hingga saat ini, di kota Solo terdapat 4 buah bioskop twenty one yang beroperasi, yaitu Grand 21 di Solo Grand Mall, XXI Solo Square, XXI Solo Paragon, dan Premiere Solo Paragon. 

Itulah perjalanan bioskop di kota Solo, sebagai kota yang selalu berkembang dari zaman penjajahan hingga detik ini. Semoga bermanfaat.

Disadur dari kabutinstitut.blogspot.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini