17 April 2014

"Bengawan Sore", Langgam Syahdu Penenteram Jiwa

Seni adalah makanan bagi jiwa. Menurut penikmatannya, seni sendiri dibagi menjadi lima cabang, yaitu seni rupa, seni musik, seni tari, seni teater, dan seni sastra. Kelima cabang seni tersebut bisa menimbulkan ketenteraman jiwa tersendiri bagi penikmatnya.

Tak terkecuali dalam cabang seni musik, lagu-lagu yang disusun oleh para komposer pun juga sangat mungkin menimbulkan ketenteraman jiwa tersendiri bagi para penikmatnya. Paling tidak seperti itulah respons jiwa saya ketika mendengarkan sebuah lagu lantunan Sang Maestro Campursari, Alm. Manthous yang berjudul Bengawan Sore. Alm. Manthous sendiri dikenal sebagai musisi yang pertama kali menggabungkan ornamen gamelan dan peralatan musik modern untuk mengiringi lagu-lagu/langgam Jawa yang dinyanyikannya.
Alm. Manthous, Sang Maestro Campursari. (Foto: yusuf-batam.blogspot.com)
Lagu Bengawan Sore berkisah tentang penantian seseorang di tepian bengawan (sungai yang besar) setiap sore hari. Ia berharap seseorang yang dinanti-nantikannya akan datang dan berlabuh di tempat tersebut. Zaman dulu di tanah Jawa, transportasi melalui sungai merupakan transportasi yang cukup populer. Dengan setting waktu dan tempat tanah Jawa di masa lalu, lagu tersebut cukup mampu mengajak jiwa kita berkelana ke masa-masa yang kita sendiri sebenarnya belum pernah berada di dalamnya. Namun berkat kekuatan lagu, seolah-olah kita ikut pula menjadi saksi sebuah penantian yang terjadi di waktu yang telah lalu.

Berikut adalah lirik lagu Bengawan Sore yang menyimpan juga pesan moral. Silakan Anda temukan di mana letak pesan moralnya.

Bengawan Sore

Ning pinggiring bengawan (di tepiannya bengawan)
Tansah setya ngenteni sliramu (selalu setia menanti dirimu)
Eling-eling jamane semana (teringat-ingat zaman waktu itu)
Wus ndungkep pitung ketiga (sudah genap tujuh kali musim kemarau)

Ning pinggiring bengawan (di tepiannya bengawan)
Saben-saben mung tansah kelingan (tiap waktu hanya selalu teringat)
Wus prasetya ing janji (sudah menjadi setia dalam janji)
Ing lahir terusing ati (di lahir hingga ke batin)

Sanadyan kaya ngapa … (meskipun seperti apa …)
Manungsa mung bisa ngreka lan njangka (manusia hanya bisa berencana dan berupaya)
Gusti kang paring idi lan pesthi (Tuhan-lah yang beberi izin dan kepastian)
Kita sak derma nglampahi (kita seikhlasnya menjalani)

Ning pinggiring bengawan (di tepiannya bengawan)
Wayah sore tansaya kelingan (ketika sore semakin terbayang)
Gawang-gawang esemmu Cah Ayu (mengangan-angankan senyummu, Cah Ayu)
Gawe sedhihing atiku (membuat sedih hatiku)

3 komentar:

Komentar Terkini