03 Maret 2014

Selamat Jalan, Cahyo Ginak Ginuk

Pagi tadi menjelang subuh, ada SMS masuk ke ponsel saya dari seorang teman yang isinya:
”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, telah meninggal teman/sahabat kita, Cahyo.”
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun…” ucap saya kemudian dalam hati.
Cahyo Ginak Ginuk, begitu kami biasa menyapanya. Seorang sahabat yang sebenarnya saya tidak begitu mengenalnya secara personal. Meski begitu, ada cukup banyak keseruan bersama yang akhirnya membuat saya cukup mengenalnya secara kelompok.
Cahyo Ginak Ginuk di salah satu jepretan saya. (Foto: Arie Kurniawan)
Desiderius Cahyo Haryanto, itulah nama aslinya. Sebuah nama yang bahkan baru saya tahu beberapa jam setelah dia berpulang. Saya mengenalnya sekitar bulan Mei 2011 di sela-sela acara karnaval budaya di Jl. Slamet Riyadi, Solo karena dikenalkan oleh sahabat saya yang juga admin fan page kota Solo, Shaggy. Di mata saya, Cahyo adalah pribadi yang supel dan selalu bisa menghadirkan keceriaan di sela-sela waktu berkumpul kami bersama teman-teman yang lain. Sebagai seorang yang sama-sama tertarik dengan kegiatan budaya dan pariwisata di kota Solo, kesempatan untuk bertemu dan hang out bersama pun menjadi lebih intens di antara kami dan teman-teman yang lain, semisal Solo Car Free Day, gathering kecil-kecilan sesama forumer Skyscrapercity Solo Raya, hunting foto bersama, dan sebagainya.

Sampai pada beberapa minggu yang lalu, ada kabar yang mengabarkan bahwa Cahyo masuk rumah sakit. Saya tidak tahu persis sakit apa yang ia derita, hanya saja beberapa minggu sebelum dia diopname, saya dan teman-teman yang lain, sempat bertemu dengannya di acara Solo Car Free Day, tanggal 9 Februari 2014. Di kesempatan tersebut, tak lupa kami juga berfoto bersama, dan itulah ritual yang ‘komunitas’ kami biasa lakukan setiap bertemu di sebuah kesempatan. Saat itu, Cahyo tampak jauh lebih kurus bila dibandingkan dengan penampilan dia sebelumnya. Dan ternyata itulah kesempatan terakhir saya bertemu dengannya.
Cahyo Ginak Ginuk (tengah), pada sebuah kesempatan. (Foto: Arie Kurniawan)
Saya masih ingat betul, ketika pulang dari acara Solo Car Free Day tersebut, persisnya saat berpisah di perempatan Pasar Beling, Solo (saya kendak berbelok ke arah timur, dan Cahyo hendak berbelok ke arah barat), dia sempat mengucapkan kata-kata pada saya, “Hati-hati, Rie!”. Dan saya pun membalas, “Ok, ati-ati”. Dan itulah ternyata dialog terakhir saya dengannya.

Selamat jalan Kawan, damailah di sisi-Nya.

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini