06 Maret 2014

Lagu "Wedhus" dan Istilah "Gendhakan"

Belakangan, sedang pupuler lagu campursari koplo berjudul Wedhus yang dibawakan oleh Wiwik Sagita, seorang penyanyi panggung asal Jawa Timur. Di tengah naik daunnya lagu tersebut di masyarakat, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, turut populer juga istilah gendhakan yang notabene menjadi bagian dari lirik lagu tersebut, yaitu pada baris mendhing dadi gendhakan timbang dadi bojone (lebih baik jadi gendhakan daripada jadi istrinya). Lalu apa sih, gendhakan itu?
Wiwik Sagita. (Foto: youtube.com)
Gendhakan berasal dari kata gendak yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, berati perempuan yang disukai (diajak berzina) atau perempuan simpanan. Sedangkan dalam bahasa Jawa, gendhakan diartikan sebagai pacar atau pasangan tetap. Istilah gendhakan sampai saat ini ternyata masih banyak dipakai di masyarakat, terutama di Surabaya.

Lagu Wedhus sendiri aslinya berjudul Sate Wedhus yang diciptakan oleh Hidayati dan Iswan Samudra dan dinyanyikan oleh Demy. Lagu Wedhus ini menceritakan tentang seorang wanita yang lebih memilih menjadi gendhakan (simpanan) daripada menjadi istri yang sah. Menjadi wanita simpanan dipandang lebih praktis karena tidak harus melayani setiap hari, terlebih bila sang pria adalah pria yang tidak berduit.

Fenomena gendhakan memanglah bukan fenomema baru di masyarakat Jawa. Barangkali ini adalah imbas dari paham feminisme pada kultur masyarakat Jawa, artinya dari sudut pandang yang lebih luas, tugas seorang wanita Jawa adalah mengandung, melahirkan, dan menyusui. Oleh karena itu, kata wanita, oleh kalangan Jawa Kuno sering diartikan sebagai wani ing tata yang memiliki arti mampu atau dapat diatur, yaitu dituntut untuk patuh pada suami. Selain itu adanya pepatah Jawa yang berbunyi, swarga nunut neraka katut (surga ikut neraka pun ikut) telah menjadi semacam aturan tak tertulis yang mewajibkan wanita pasrah (patuh) terhadap apa-apa yang dilakukan oleh suami, termasuk ketika suami memiliki gendhakan ini.

Referensi: dari berbagai sumber

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini