28 Maret 2014

"Huh, Migrain!"

Migrain, apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata tersebut? Di kalangan masyarakat kita, migrain diartikan sebagai sakit kepala yang terasa hanya di sebagian kepala (sakit kepala sebelah). Sedangkan menurut Wikipedia, migrain adalah gangguan kronis yang ditandai dengan terjadinya sakit kepala ringan hingga berat yang seringkali berhubungan dengan gejala-gejala sistem syaraf otonom. Ditandai dengan sakit kepala unilateral (hanya pada separuh bagian kepala), berdenyut-denyut, dan berlangsung selama 2 sampai 72 jam. Dan itulah yang terjadi dengan saya pagi tadi, sampai-sampai saya terpaksa istirahat di rumah dan tidak jadi masuk kerja, karena tidak kuasa menahan mual yang menyertainya.
Gangguan migrain. (Foto: empharmd.blogspot.com)
Pagi tadi selepas sarapan, tanda-tanda migrain memang sudah saya rasakan, yaitu berupa aura visual pada penglihatan saya. Saat mengalami gejala ini, saya seakan melihat kilatan cahaya yang bergerak pelan pada salah satu mata saya. Dan ini adalah gejala migrain klasik (migrain aura). Sekedar informasi, migrain dibagi menjadi dua, yaitu migraine klasik (seperti yang saya alami) dan migrain biasa (tanpa aura), yaitu migrain yang datang tanpa disertai gejala aura visual.

Penyebab migrain sendiri memang masih dalam penelitian, namun diperkirakan penyebabnya adalah adanya hiperaktivitas impuls listrik otak yang meningkatkan aliran darah ke otak, sehingga terjadi pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi (radang). Nah, pelebaran pembuluh darah dan inflamasi inilah yang menyebabkan timbulnya nyeri dan gejala lain, sebagai contoh mual. Semakin berat inflamasi yang terjadi, semakin berat pula migrain yang diderita. Dan faktor genetik adalah pemicu timbulnya migrain. 

Pencetus migrain sendiri bisa disebabkan oleh makanan, stres, dan perubahan aktivitas rutin sehari-hari. Mengkonsumsi makanan tertentu seperti cokelat, teh, susu, MSG, makanan yang mengandung tyramine, dan sebagainya dapat pula mencetuskan kambuhnya migrain. Perubahan cuaca atau tekanan udara, stres atau tekanan emosi, bau yang menyengat, reaksi alergi, perubahan kadar hormon (yang dapat terjadi selama siklus menstruasi wanita atau dengan menggunakan pil KB), serta suara bising juga mampu mencetuskan migrain.

Mengenali dan menghindari pencetus migrain adalah cara terbaik untuk mengatasinya, terlebih bila migrain tersebut sudah menghambat bahkan mengganggu aktivitas kita. Mengenali dan menghindari pencetus migrain pun terkadang belum cukup, untuk itu ada baiknya kita tambah pengetahuan kita tentang migrain. Selain itu, berkonsultasi dengan dokter adalah cara bijak untuk menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Referensi: anti-remed.blogspot.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini