17 Februari 2014

Mengenal Sekilas Burung Derkuku

Pagi tadi, saat sedang bersiap hendak berangkat ke kantor, saya mendengar burung derkuku (Streptopelia chinensis) sedang bersenandung anggun di belakang rumah saya. Saya tidak sempat mengecek, apakah burung tersebut dipelihara oleh seseorang, ataukah memang burung liar yang kebetulan ‘mampir’ di halaman belakang rumah saya. Mendengar suara burung derkuku tersebut terbersit keinginan pada diri saya untuk bisa memelihara burung jenis tersebut kembali. Memang benar, sebelumnya saya memang pernah memelihara burung derkuku dalam sangkar. Suaranya yang tenang, seolah membawa kekuatan magis dan rezeki tersendiri. Paling tidak itulah yang dipercayai oleh sebagian orang.
Penampilan fisik burung derkuku. (Foto: birdforum.net)
Burung derkuku masuk dalam famili Columbidae (merpati-merpatian). Famili Columbidae ini tersebar di banyak wilayah di Asia Tenggara hingga Australia. Dan saat ini tercatat ada 41 spesies yang menjadi anggota famili Columbidae, dan 18 spesies di antaranya terdapat di Indonesia.

Burung derkuku di habitat bebas hidup di pepohonan dan di daerah-daerah pertanian. Memiliki bulu berwarna kecokelatan yang merata di seluruh badannya. Pada sayapnya terdapat bercak-bercak hitam. Pada bagian leher atas terdapat lingkaran hitam dengan totol-totol berwarna putih. Burung derkuku biasa mencari makanan berupa biji bijian di tanah-tanah tegalan atau persawahan yang baru selesai dipanen. 
Lingkaran hitam di leher dengan totol-totol berwarna putih. (Foto: botany.hawaii.edu)
Pemeliharaan burung derkuku tergolong sangat mudah. Pemeliharaannya tidak serumit bila kita memelihara burung kicauan. Makanannya pun cukup sederhana, hanya beras merah diberi jewawut dan ketan hitam pun sudah cukup. Memandikannya cukup sepekan sekali dan tidak perlu disediakan bak mandi seperti halnya pada burung ocehan.

Referensi: omkicau.com, Wikipedia 

2 komentar:

  1. ini kalo di jawa namanya buruk deruk,
    kalo orang orang tua seneng banget memeliharanya, biasanya mereka memelihara deruk dan perkutut, memang suasana rumahnya menjadi lain jika mendengar suara dua burung ini, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm, iya lain daerah, lain juga penyebutannya...

      Btw, salam kenal Bro Rahmat ...

      Hapus

Komentar Terkini