28 Februari 2014

Eko Ribut dan Kiprah Supeltas di Kota Solo

Beberapa hari lalu, portal berita Solopos mengangkat kiprah Supeltas (Sukarelawan Pengatur Lalu Lintas) nyentrik bernama Eko Ribut yang biasa bertugas di kawasan Kalitan, Solo dalam salah satu beritanya. Pada 23 September 2013 silam, fan page kota Solo juga sempat menampilkannya pada posting foto statusnya, dan hal tersebut ternyata cukup menarik perhatian banyak pengguna Facebook saat itu untuk turut berkomentar dan membagi pengalamannya.

Bagi warga Solo, fenomena Supeltas bukanlah hal yang baru mengingat keberadaan mereka di Solo sudah ada kira-kira sekitar 5 – 6 tahun silam. Tugas mereka adalah mengatur arus lalu lintas, terutama di persimpangan-persimpangan padat yang tidak terdapat lampu lalu lintasnya. Hal inilah yang kemudian memunculkan bentuk-bentuk gaya kreatif mereka dalam mengatur lalu lintas. Seperti halnya Eko Ribut yang saya singgung di atas.
Eko Ribut dengan gaya uniknya mengatur lalu lintas Solo. (Foto: Hutomo Budhi Prasetya)
Seperti warga Solo ketahui, Eko Ribut memiliki gaya yang unik dan lucu saat mengatur lalu lintas. Ia tidak hanya sambil berjoget-joget di tengah jalan, sering ia juga sambil berteriak-teriak menyanyikan lagu kesukaannya di sela-sela waktunya bertugas. Terkadang ia pun bergaya seperti sedang memainkan gitar layaknya seorang pemain gitar. Hal inilah yang kemudian memancing tawa dan meredakan stres para pemakai jalan yang sedang melintas.
Senyum ramah seorang Supeltas di Bundaran Baron, Solo. (Foto: sinausosiologi.blogspot.com)
Di kota Solo, jumlah Supeltas tergolong cukup banyak. Pada September 2012 saja, tercatat ada sekitar 36 anggota Supeltas. Mereka tersebar di persimpangan-persimpangan padat di kota Solo. Seiring bertambah ramainya lalu lintas di kota Solo, banyak warga menganggap para Supeltas ini telah menjadi sebagai sebuah kebutuhan. Banyak pula warga yang mengapresiasi kinerja mereka dengan cara memberikan semacam ‘tip’ ketika kebetulan sedang berjumpa mereka saat bertugas di jalan. Hal ini cukup berbanding terbalik dengan keberadaan anggota Satlantas yang menurut pandangan banyak warga justru hanya bisa duduk-duduk di pos dan sesekali berkeliling untuk 'mencari mangsa'. Warga berpendapat, keramahan dan senyum para Supeltas inilah yang benar-benar mencerminkan budaya orang Solo yang ramah dan bersahabat, bukannya wajah garang bapak-bapak polisi Satlantas.

Barangkali Anda juga punya pendapat?

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini