22 Januari 2014

Pasar Gede Pun Bersolek Sambut Imlek

Sudah menjadi sebuah kebiasan setiap tahunnya, menjelang perayaan Imlek, kawasan Pasar Gede di kota Solo selalu bersolek dengan pernak-pernik khas Imleknya.
Gapura Imlek Pasar Gede, Solo. (Foto: Taqoballah Rido)
Seperti kita ketahui bersama, bahwa antara tahun 1968 – 1999, perayaan Imlek sempat dilarang oleh pemerintahan Presiden Soeharto lewat Inpres No. 14 Tahun 1967. Baru pada masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid di tahun 2000, Inpres tersebut dicabut dan ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya Kepres No. 19 Tahun 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi yang merayakan). Dan setelah Megawati Soekarnoputri menjabat sebagai presiden pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai hari libur nasional di Indonesia.
Lampion-lampion terpasang di sisi-sisi jembatan Pasar Gede, Solo. (Foto: Taqoballah Rido)
Lampu-lampu hias tergantung indah di atas jalanan. (Foto: Taqoballah Rido)
Pasca peresmian Imlek sebagai hari libur nasional, maka semakin semaraklah pernak-pernik dan dekorasi khas Imlek terpasang di tempat-tempat umum seperti mall dan swalayan. Begitu juga di kota Solo. Di kota budaya ini, perayaan Imlek selalu dipusatkan di kawasan Pasar Gede, di mana kawasan ini merupakan kawasan pemukiman etnis Tionghoa yang sudah turun-temurun hidup rukun berdampingan dengan etnis pribumi. Sehingga sangat layak bila kawasan pecinan Pasar Gede Solo ini dinobatkan sebagai simbol kerukunan antaretnis, khususnya etnis Tionghoa – Jawa di kota Solo.

1 komentar:

Komentar Terkini