27 Januari 2014

"Jangan Panggil Aku Cina"

Menjelang perayaan Imlek seperti saat-saat sekarang ini, di televisi kita marak ditayangan film-film televisi yang memasukkan unsur budaya Cina di dalam ceritanya. Dan sebuah film televisi (FTV) yang sebenarnya ingin saya tonton kembali di tengah suasana Imlek seperti sekarang ini adalah Jangan Panggil Aku Cina, yang dibintangi oleh Leony VH dan Teddy Syah.
Jangan Panggil Aku Cina. (Foto: bungocinto.blogspot.com)
Jangan Panggil Aku Cina adalah sebuah film televisi yang mengisahkan tentang seorang dokter muda bernama Yusril (diperankan oleh Teddy Syah) yang jatuh cinta kepada seorang gadis keturunan Tionghoa bernama Olivia (diperankan oleh Leony VH) yang tinggal sebuah kawasan pecinan di kota Padang. 

Keluarga Olivia hidup sederhana, ia hidup dengan ibu, nenek, dan seorang kakak laki-laki angkat yang bukan keturunan Tionghoa. Meski berketerunan Tionghoa, Olivia sejak kecil sudah bergaul dan membaur dengan orang-orang Minang di lingkungannya, sehingga Olivia merasa dirinya sudah menjadi seorang gadis Minang dan ingin sekali menikah dengan adat Minang. Kakak angkat Olivia, Remon, memiliki tabiat suka berjudi dan gemar mengambil penghasilan keluarga, yaitu hasil penjualan keripik balado yang merupakan satu-satunya usaha keluarga Olivia.

Perkenalan Olivia dan Yusril terjadi di saat dokter muda tersebut dimintai pertolongan oleh anak dari mamak-nya untuk membeli keripik balado di malam hari. Mamak adalah saudara laki-laki dari ibu. Dan kebetulan satu-satunya toko yang masih buka adalah toko milik keluarga Olivia. Dari situlah tumbuh ketertarikan antara keduanya.

Singkat cerita hubungan keduanya pun mendapat tentangan dari keluarga, terutama dari keluarga mamak Yusril yang berniat menjodohkan Yusril dengan salah satu putri dari mamak-nya. Sedangkan dari keluarga Olivia, keluarga Olivia merasa tidak sanggup untuk membayar uang penjemput dikarenakan Yusril adalah orang Pariaman. Uang penjemput adalah uang yang harus diberikan pihak perempuan kepada pihak laki-laki dalam perkawinan adat Minangkabau. Uang penjemput bukanlah untuk membeli, tetapi sebagai penghormatan kepada keluarga mempelai pria yang telah membesarkan mempelai pria tersebut. Semakin tinggi gelar/status sosial mempelai pria, maka biasanya semakin tinggi pula uang penjemput-nya. Uang penjemput merupakan tata cara adat yang dahulunya dipakai di seluruh daerah di Sumatra Barat. Namun belakangan, hanya beberapa daerah saja yang masih memakai tata cara tersebut, misalnya Padang dan Pariaman.

Selain memuat dua unsur budaya yang anggun, yaitu budaya Minang dan Tiongkok, FTV tersebut juga menampilkan keindahan alam Sumatra Barat yang memang sudah terkenal. Meski akting para pemainnya tidak begitu maksimal seperti yang kita lihat di film, FTV ini sebenarnya layak ditayangkan kembali di moment-moment Imlek seperti sekarang ini.

Sedangkan pesan moral yang bisa saya tangkap dari cerita tersebut adalah pentingnya upaya-upaya dialogis ketika terjadi benturan-benturan dalam masyarakat yang berkaitan dengan budaya. Selain itu FTV ini juga sedikit meluruskan tentang pemahaman akan uang penjemputan dalam tradisi Minang, bahwa pada hakikatnya uang penjemput adalah wujud simbolis semata. Mengenai besaran uang penjemputan, ada baiknya ada dialog kekeluargaan antara kedua keluarga.

Itulah yang bisa saya bagi mengenai FTV Jangan Panggil Aku Cina. Bila Anda berminat, Anda bisa menyaksikannya di sini.

Referensi: bungocinto.blogspot.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini