27 Januari 2014

"Grebeg Sudiro", Lukisan Indah tentang Kebhinnekaan

Grebeg Sudiro adalah sebuah karnaval budaya yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Solo terutama. Sejak pertama kali digelar di tahun 2007, Grebeg Sudiro mendapat respons semakin positif dari banyak kalangan di kota Solo dan sekitarnya. Grebeg Sudiro adalah wujud akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang tumbuh di kota Solo. Acara ini diadakan menjelang perayaan Imlek setiap tahunnya sebagai perkembangan tradisi Buk Teko, yaitu tradisi syukuran menjelang Imlek yang sudah dirayakan sejak zaman Paku Buwono X.
Salah satu atraksi dalam Grebeg Sudiro. (Foto: Taqoballah Rido)
Nama Sudiro diambil dari nama sebuah kelurahan di kota Solo, yaitu Kelurahan Sudiroprajan di mana mayoritas warganya merupakan warga keturunan Tionghoa. Sedangkan grebeg sendiri merupakan tradisi khas Jawa dalam menyambut hari-hari khusus keagamaan, seperti hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, lebaran, dan tahun baru Jawa. Puncak acara grebeg adalah perebutan hasil bumi, makanan, dan lain-lain yang disusun membentuk gunungan.
Tetap dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika. (Foto: Taqoballah Rido)
Dalam Grebeg Sudiro, gunungan disusun dari ribuan kue keranjang, sebagai kue khas Imlek. Selanjutnya gunungan tersebut diarak di sekitar kawasan Sudiroprajan disertai dengan arak-arakan aneka kesenian Tionghoa dan Jawa di belakangnya.
Anak-anak pun dilibatkan dalam Grebeg Sudiro sebagai wujud nilai-nilai edukasi. (Foto: Taqoballah Rido)
Seiring berjalannya waktu, Grebeg Sudiro dirasa semakin mendapat respons positif dari masyarakat luas. Hal ini terbukti semakin banyak masyarakat yang ingin menyaksikan dan berpartisipasi di dalamnya. Selain itu, secara sosiologis Grebeg Sudiro telah menjadi media yang sangat indah untuk saling merekatkan kembali kerukunan antaretnis di kota Solo, yaitu Tionghoa dan Jawa. Dari sisi edukasi, Grebeg Sudiro juga telah menjadi sarana pengenalan kebudayaan Tionghoa kepada masyarakat Jawa, dan sebaliknya, pengenalan budaya Jawa kapada masyarakat Tionghoa.

Itulah salah satu wujud indah kerukunan etnis yang ada di kota Solo. Dengan harapan, hal tersebut mampu kita maknai bersama sebagai modal untuk menjaga harmoni di negeri ini.

Referensi: id.wikipedia.org, jejak-bocahilang.com

2 komentar:

  1. Mas, nanya ya, Kenapa Grebeg Sudiro yg digelar untuk merayakan Imlek tidak digelar pas tahun baru Imleknya? thanks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertanyaan super. Hehe, menurut sumber yg saya baca, " ... untuk menunjukkan akulturasi, masyarakat Sudiroprajan membuat tradisi baru yaitu, Grebeg Sudiro yang diperingati 7 hari sebelum Imlek".

      Mungkin bila dilaksanakan pas Imlek, banyak saudara-saudara kita keturunan Tionghoa yang berhalangan mengikuti acara ini, karena mengkhususkan diri untuk sembahyang di hari itu. Ya mungkin saja begitu... He

      Hapus

Komentar Terkini