08 Januari 2014

"Candhik Ala" yang Menawan

Sore kemarin (7/1) sewaktu menunggu istri yang sedang keramas di sebuah salon kecil tak jauh dari rumah, sejenak saya terkesima dengan suasana sorenya. Kebetulan saya menunggu di halaman parkir salon tersebut, sehingga saya dapat leluasa melihat dan menikmati suasana sore kemarin.
Candhik ala juga disebut lembayung senja. (Foto: kfk.kompas.com)
Sore kemarin cuaca memang sedang cerah, tak ada gerimis bahkan hujan. Suasana sore menjelang magrib kemarin perlahan menjadi jingga. Suasana seperti itulah yang biasa orang Jawa sebut sebagai candhik ala. Candhik ala adalah pemandangan awan berwarna jingga ketika senja, karena mendapat pancaran sinar matahari dari barat. Bagi orang Jawa zaman dulu, candhik ala disebut sebagai pertanda sore yang buruk dan membawa petaka, dan mereka dianjurkan untuk berada di dalam rumah. Menurut mereka, di waktu-waktu menjelang magrib seperti itulah aktivitas makhluk-makhluk gaib mulau dimulai. Dan seperti itulah nenek saya dulu juga memperlakukan saya. Ketika ada candik ala, kami (cucu-cucunya) diperintahkan untuk berada di dalam rumah sampai candhik ala tersebut hilang
Candhik ala terlihat di daerah Magetan, Jawa Timur. (Foto: soendoel.blogspot.com)
Fenomena alam candhik ala memang tidak berlangsung lama, hanya beberapa menit saja. Munculnya pun tidak setiap hari, hanya kadang-kadang saja bila kebetulan cuaca cerah dan berawan.

Di masa kini, meskipun orang Jawa dulu menyebutnya sebagai malapetaka, momentum candhik ala merupakan objek foto yang mengagumkan dan tak akan pernah terulang kondisinya. Karena di situ melibatkan unsur cahaya serta bentuk-bentuk awan yang senantiasa bergerak dan berubah. Karena keindahannya inilah ada sebagian orang yang justru menyebutnya sebagai candhik ayu, yaitu kebalikan dari candhik ala. Hmm, bagaimana dengan Anda?

2 komentar:

  1. pernah lihat formasi awan seperti foto pertama, tapi tanpa semburat jingga :)

    BalasHapus

Komentar Terkini