04 Desember 2013

Refleksi 20 Tahun Pecas Ndahe

Dua puluh tahun merupakan waktu yang sudah cukup panjang bagi perjalanan sebuah grup musik/band. Dan bila sebuah grup musik mampu bertahan hingga di usia yang ke-20, saya yakin pahit manisnya dunia panggung sudah sangat mereka kecap dan rasakan. Begitu juga dengan Pecas Ndahe, sebuah kelompok musik humor asal Solo yang saat ini masih tetap melekat di hati para ndaser (penggemar setia Pecas Ndahe) kota Solo dan sekitarnya. Terbentuk pada 5 September 1993 di lingkungan Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Sastra dan Seni Rupa), Universitas Sebelas Maret Surakarta, Pecas Ndahe tumbuh seiring dengan maraknya acara-acara musik di lingkungan kampus tersebut kala itu.
Tiga joker andalan Pecas Ndahe, Burhan, Alm. Emil, dan Doel Sumbing. (Foto: solopos.com)
Awal Cerita
Bila berbicara tentang asal-usul Pecas Ndahe, ada satu nama yang tak bisa kita lupakan begitu saja, yaitu Suku Apakah, sebuah kelompok musik humor dari Solo yang sudah dulu eksis, yaitu di tahun 80-an. Suku Apakah lahir di lingkungan Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra, UNS Solo. Seiring jam terbang yang semakin tinggi, Suku Apakah mengalami perkembangan dan mulai merambah ke luar kampus. Konsep pertunjukan humor yang dibalut dengan seni peran, musik, dan kostum membuat kelompok ini kebanjiran order manggung.

Sebagai regenerasi dari Suku Apakah, maka di tahun 1991 lahirlah Suku Apakah Junior yang digawangi oleh Wisik, Nurul, Edy, Firman Gondhes, dan beberapa teman lainnya. Kelahiran Suku Apakah Junior langsung disambut publik dengan dipercayainya mereka mengisi sebuah program acara di radio SAS FM Solo saat itu. Kesempatan ini membuat nama kelompok ini semakin dikenal lagi oleh publik.

Di tengah melambungnya kedua nama Suku Apakah, baik Senior maupun Junior, timbullah konflik yang konon disebabkan ketidaksetujuan Suku Apakah Senior ada embel-embel nama Junior pada Suku Apakah dan meminta sang junior untuk membubarkan diri. Akhirnya pada 1993 mereka tidak membubarkan diri namun mengubah nama dengan nama yang baru, yaitu Pecas Ndahe.

Pecas Ndahe di awal terbentuk mempunyai 11 personil, yaitu Nurul (gitar), Wisik (vokal), Wahyu (bas betot), Pras (gitar ritem), Azis (perkusi), Firman Gondhes (vokal, biola), BJ (cuk), Edy Dangdut (cak), Ndaru (vokal), Emil (joker), dan Burhan (joker).

Nama Pecas Ndahe muncul dari ungkapan kekesalan mereka saat mencari nama baru. “Mikir jeneng wae nganti pecas ndahe.” (Memikirkan nama saja sampai pecah kepalanya). Pecas ndahe adalah plesetan kata pecah ndase, yang artinya pecah kepalanya. Sebuah nama yang mudah diingat dan unik.

Seiring berjalannya waktu, persaingan di dunia musik humor pun kian ketat, maka hal inilah yang kemudian ‘memaksa’ Pecas Ndahe untuk tampil beda dengan Suku Apakah tanpa harus meninggalkan pakem dasarnya yang menghibur. Salah satunya, mereka mulai memanfaatkan media-media lain sebagai pendukung penampilan mereka, yang kemudian populer dengan sebutan humor multimedia.

Selain itu pilihan untuk menjadi berbeda jatuh pada segi orientasi musikal yang berupa orkestrasi. Dengan modal alat musik seadanya, seperti cello, bas, gitar, biola, dan perkusi, mereka mulai belajar. Dan prestasi pun mulai ditorehkannya. Koran Wawasan pada 11 Mei 1996 mencatat bahwa pada tahun 1994 nama Pecas Ndahe semakin dikenal setelah mengikuti Jambore Musik V di Universitas Negeri Jember serta lomba Seni Mania Republika di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mereka mengantongi gelar juara favorit pertama.

Pergantian Personil
Sebuah kelompok musik tak selalu memiliki perjalanan karir yang mulus, begitu juga Pecas Ndahe. Gonta-ganti personil pun mulai terjadi pada kelompok ini. Menjadi pukulan tersendiri bagi Pecas Ndahe tatkala Gondhes memutuskan untuk keluar, yang pada waktu itu terbilang cukup mahir mengaransemen musik akustik. Maka, 'sepeninggal' Gondhes, Pecas Ndahe pun mulai mengubah nuansa musiknya menjadi lebih cenderung ke nuansa elektrik sambil mencari personil baru.

Audisi yang diadakan menghasilkan Pecas Ndahe formasi baru yang terdiri atas Wisik Sunaryanto (vokalis), Emil Abdillah (joker, vokalis), Burhanudin Latief (joker, vokalis), Ahmad Nurul M. (gitar), Edy Santoso (gitar akustik), Agung Setyawan (bas), Praptomo Wiharyo (drum), dan Doel Sumbing (cak/cuk, biola).

Dan beberapa tahun pun berlalu, pergantian personil pun terus dialami kelompok ini. Formasi terakhir Pecas Ndahe sebelum meninggalnya Emil Abdillah adalah Burhan (joker), Emil (joker), Doel Sumbing (joker), Yoik (cak/cuk), Tony (gitar, vokal), Tomo (drum), serta Pendhek (bass).

Sepeninggal Emil, menjadi tugas berat kelompok ini dalam hal mempertahankan kreativitas agar tetap digemari oleh publik Solo pada khususnya. Fenomena sosial yang tengah terjadi di masyarakat, harus mampu selalu dilihat dari kacamata budaya Jawa, terutama Solo. Hal itulah yang menjadi nyawa Pecas Ndahe.

Pentas Ulang Tahun
Sebagai sebuah kelompok musik humor, ada satu lagi keunikan Pecas Ndahe, yaitu setahun sekali selalu mengadakan pentas dalam rangka memeringati ulang tahunnya. Pentas ultah Pecas Ndahe biasanya diadakan di bulan-bulan September - Oktober di setiap tahunnya, tergantung situasi dan kondisi. Pada mulanya konser ulang tahun Pecas Ndahe selalu diadakan di GOR UNS Solo, namun seiring dengan tingginya animo para ndaser yang ingin menyaksikan, belakangan pentas ultah Pecas Ndahe diadakan di Taman Budaya Jawa Tengah yang lebih luas dan terbuka.

Bagi Pecas Ndahe, pentas ulang tahun merupakan ajang untuk bersilaturahmi bersama para ndaser ataupun orang-orang yang pernah menjadi bagian dari Pecas Ndahe, maka tak jarang bila akan kita temui personil-personil lama yang juga turut hadir dalam pentas ulang tahun Pecas Ndahe.

Beragam tema telah diangkat kelompok ini dalam setiap pentas ultahnya. Isu-isu sosial yang sedang menjadi buah bibir di masyarakat pun selalu tersentuh oleh ide-ide kreatif mereka untuk diparodikan.

Dan Pecas Ndahe tetaplah Pecas Ndahe, meskipun beberapa waktu yang lalu sempat ditinggal berpulang salah satu joker andalannya, Emil Abdillah, saya yakin Pecas Ndahe akan terus membuat kami tertawa. Menghadirkan canda tanpa meninggalkan pesan moral utama dalam setiap pentasnya. Hal itulah yang akan mereka buktikan dalam pentas ultah ke-20 Pecas Ndahe, GUGUR SATU TUMBUH SERIBU, yang akan digelar di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, 11 Desember pekan depan. Dalam kesempatan tersebut akan dimeriahkan pula oleh Max Baihaqi, Titus, Suara 8 Keroncong Orchestra, Trio Gegamas, serta Gas 21 STAIN Surakarta. Kita tunggu saja aksi mereka. Wedang jahe campur soon, Pecas Ndahe selamat ulang tahun!

Referensi: Pecas Ndahe dan Humor Wong Cilik (sragenpos.com, 5 Juni 2013 oleh Heripri Puspari); Pecas Ndahe Menertawakan Duka, Suara Merdeka, 22 Agustus 2002 oleh Saroni Asikin.

4 komentar:

Komentar Terkini