26 Desember 2013

Maraknya Ejaan Nonbaku di Tengah Masyarakat

Tiga tahun menekuni dunia panyuntingan naskah, membuat saya lebih paham dan berhati-hati dalam berbahasa Indonesia, terutama bahasa tulisan. Seperti kita ketahui bersama, bahasa Indonesia yang kita akui sebagai bahasa pemersatu bangsa ini awalnya adalah bahasa Melayu yang telah mengalami penyempurnaan dan mengalami beberapa kali transformasi bentuk ejaan. Hingga sekarang kita mengenalnya dengan istilah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Sebagai bangsa Indonesia, patutlah kita berbangga karena mempunyai bahasa sendiri yang mandiri sebagai bahasa nasional.

Rasa bangga memiliki bahasa Indonesia ini sepertinya kurang dimaknai secara mendalam oleh banyak pihak, sehingga masih banyak kita menemukan banyak sekali ejaan-ejaan tidak baku yang beredar di masyarakat seperti di siaran televisi ataupun di tempat-tempat umum.

Televisi sebagai sarana komunikasi satu arah yang mencakup semua lapisan masyarakat, bisa dibilang cukup sering menayangkan kesalahan-kesalahan bahasa yang tentu saja menyalahi EYD. Masih sering kita mendapati kata adzan, sholat, dan maghrib di siaran-siaran televisi kita yang seharusnya menurut ejaan baku, kata-kata tersebut adalah azan, salat, dan magrib. Mengapa begitu? Sebab dalam tatanan bahasa Indonesia baku tidak dikenal konsonan gabung /dz/, /sh/, serta /gh/ sepeti yang terdapat pada kata adzan, sholat, dan maghrib. Yang ada adalah konsonan gabung /ng/, /ny/, /sy/, dan /kh/ seperti dalam kata mengajar, menyanyi, bersyukur, dan berkhotbah.

Di tempat-tempat umum pun setali tiga uang dengan hal tersebut. Banyak media-media komunikasi publik yang masih menggunakan ejaan yang salah dan kalau boleh saya bilang cukup ‘menyesatkan’. Pada kalender misalnya, masih banyak digunakan kata Jum’at yang seharusnya cukup Jumat saja, karena tanda apostrof (‘) sudah tidak dikenal lagi dalam khasanah bahasa Indonesia yang baku. Sehingga kata do’a dan syari’at pun seharusnya menjadi doa dan syariat.
Salah satu contoh plang yang memuat unsur kata-kata tidak baku. (Foto: myudhaps.wordpress.com)
Sedikit contoh tersebut paling tidak memberikan gambaran pada kita bahwa media cukup memiliki peran strategis dalam menyebarkan ejaan-ejaan yang tidak baku kepada masyarakat. Awak media (dalam hal ini televisi) seharusnya mengecek kembali kata-kata yang ingin ditayangkan agar sesuai dengan EYD. Hal tersebut tentu saja agar identitas asli bahasa Indonesia yang mandiri tidak luntur, hilang, bahkan punah karena perilaku kita dalam berbahasa.

Berikut adalah daftar beberapa kata tidak baku yang masih sering kita jumpai di ruang-ruang publik kita.
  • apotik seharusnya apotek
  • Jum'at seharusnya Jumat
  • antri seharusnya antre
  • atlit seharusnya atlet
  • di larang seharusnya dilarang
  • disini seharusnya di sini
  • ijasah seharusnya ijazah
  • foto copy seharusnya fotokopi
  • ijin seharusnya izin
  • ojeg seharusnya ojek
  • kreatifitas seharusnya kreativitas
  • legalisir seharusnya legalisasi
  • menyebrang seharusnya menyeberang
  • dan sebagainya

Referensi: serbabahasa.wordpress.com, dediaria.wordpress.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini