20 November 2013

"Teru-Teru Bozu" dan Sebuah Lagu Anak yang Menyeramkan

Yup, di pertengahan November ini, semakin sering saja hujan turun di tengah-tengah kita. Dan rasanya tak akan pernah habis ide untuk menulis tentang hujan. Hujan di banyak negara telah memengaruhi budaya masyarakatnya. Pun di Jepang, sebuah negara yang mempunyai ragam budaya dari masa lalu nan eksotis yang tetap eksis bersanding dengan budaya modern yang terus bertumbuh, hujan dimaknai sebagai fenomena alam yang menghasilkan kebudayan pada masyarakatnya.
Teru teru bozu digantung di sisi jendela. (Foto: indonesiaindonesia.com)
Tentang budaya hujan di Jepang, barangkali ada di antara Anda yang mengenal teru teru bozu. Sebuah boneka tradisional Jepang yang awalnya terbuat dari kertas atau kain putih yang biasa digantung di tepi jendela dengan benang. Orang Jepang percaya boneka ‘jimat’ ini mampu mendatangkan cuaca cerah dan mengusir hujan yang turun. Teru merupakan kata kerja yang berarti bersinar/cerah, sedangkan bozu bisa diartikan biksu atau dalam bahasa pergaulan masa kini berarti kepala botak.

Teru teru bozu telah populer di kalangan masyarakat urban Jepang sejak zaman Edo. Anak-anak zaman itu sering membuat boneka putih tersebut dan memohon cuaca cerah sambil bernyanyi. Secara tradisi, bila cuaca cerah maka mereka akan menggambari mata pada boneka tersebut, kemudian memberi sesaji berupa sake suci dan dituangkan pada mereka lalu kemudian menghanyutkannya di sungai. Di masa modern, anak-anak biasanya membuat teru teru bozu menjelang acara piknik sekolah dengan harapan agar cuaca cerah sepanjang hari H. Namun bila menghendaki hujan turun, mereka akan menggantungkannya secara terbalik.

Konon, asal-usul teru teru bozu erat kaitannya dengan asal-asal usul sebuah sajak anak-anak yang ditulis oleh Kyoson Asahara (1921). Kabarnya lagu ini mepunyai sejarah kelam tentang kisah seorang biarawan yang berjanji pada para petani untuk menghentikan hujan dan membawa cuaca cerah selama periode hujan berkepanjangan. Namun ternyata biarawan tersebut gagal membawa sinar matahari untuk para petani dan akhirnya dihukum mati. Berikut lirik lagu tersebut yang sebetulnya mempunyai makna yang mengerikan.

Teru-teru-bōzu, teru bōzu (teru-teru bozu, teru bozu)
Ashita tenki ni shite o-kure (buatlah esok hari yang cerah)
Itsuka no yume no sora no yō ni (seperti langit dalam mimpi pada suatu waktu)
Haretara kin no suzu ageyo (jika cerah aku akan memberimu sebuah bel emas) 
Teru-teru-bōzu, teru bōzu (teru-teru bozu, teru bozu)
Ashita tenki ni shite o-kure (buatlah esok hari yang cerah)
Watashi no negai wo kiita nara (jika kamu membuat keinginanku menjadi kenyataan)
Amai o-sake wo tanto nomasho (kita akan banyak minum anggur beras manis)
Teru-teru-bōzu, teru bōzu (teru-teru bozu, teru bozu)
Ashita tenki ni shite o-kure (buatlah esok hari yang cerah)
Sorete mo kumotte naitetara (tetapi jika awan menangis)
Sonata no kubi wo chon to kiru zo (aku akan memotong kepalamu)
Referensi: id.wikipedia.org, indonesiaindonesia.com, coderzlirik.blogspot.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini