26 September 2013

Tumis Kangkung Selalu di Hati

Tumis kangkung adalah salah satu masakan yang masuk dalam daftar menu favorit saya. Dari masa kanak-kanak sewaktu masih tinggal bersama orang tua, hingga sekarang sudah menikah dan tinggal bersama istri saya, tumis kangkung seakan tetap mendapat tempat di lidah dan perut saya. Bahkan istri saya pun sering membuatkan saya bekal makan siang tumis kangkung untuk saya bawa ke tempat kerja.
Tumis kangkung menggugah selera. (Foto: mysimplecooking.com)
Tumis adalah cara memasak bahan makanan menggunakan api yang tidak terlalu besar dan sedikit minyak untuk menggoreng. Masakan tumisan sangat populer di kalangan orang-orang Tiongkok, sebab biasanya orang-orang Tiongkok memasak makanannya dengan cara ditumis atau direbus. Cara memasak tumis pun tidaklah sulit, hanya berbumbukan irisan bawang putih, bawang merah, serta ditambah sedikit penyedap rasa. Penyedap rasa dapat diganti dengan bahan lain sesuai selera kita, semisal gula, garam, atau irisan cabai untuk memberikan sensasi pedas. Menumis sayuran memerlukan waktu yang tidak terlalu lama. Hal ini untuk menjaga agar nutrisi dalam sayuran tersebut tidak hilang karena proses pematangan. Bila sayuran sudah kelihatan agak layu, itu berarti masakan sudah siap disajikan.

Tanaman kangkung (Ipomoea aquatica) sendiri adalah tanaman sayur yang cukup populer di negara kita, Indonesia. Sayuran ini biasa diolah menjadi tumis, cah, dan sebagai lalap. Selain diolah menjadi berbagai jenis masakan, kangkung juga mempunyai khasiat antiracun dan bisa mengobati berbagai gangguan kesehatan. Kangkung memiliki kandungan gizi dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh, seperti vitamin A, B1, C, serta mengandung protein, fosfor, kalsium, besi, karoten, dan sitosterol. Tanaman ini konon berasal dari India yang kemudian tersebar hingga ke Malaysia, Birma, Tiongkok Selatan, Australia, Afrika, juga Indonesia. Di Tiongkok kangkung dikenal sebagai weng cai, dan orang-orang Eropa sering menyebutnya swamp cabbage atau water spinach.

Referensi: bumbusehat.wordpress.com, anneahira.com, id.wikipedia.org

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini