14 Agustus 2013

Filosofi Ketupat Lebaran bagi Masyarakat Jawa

Lebaran di Indonesia identik dengan ketupat, yaitu beras yang dibungkus dengan janur kemudian dimasak. Dalam filosofi Jawa, beras dalam ketupat merupakan simbol nafsu dunia, sedangkan janur adalah kependekan kata jatining nur (hati nurani). Jadi, ketupat merupakan simbol nafsu dunia yang ditutup dan dikendalikan dengan hati nurani. Setiap manusia mempunyai hawa nafsu, namun hati nurani manusia itu sendirilah yang seharusnya menjadi pengekangnya. 
Ketupat Lebaran. (Foto: tempatonlineku.com)
Bentuk ketupat yang persegi empat, diartikan oleh masyarakat Jawa sebagai perwujudan kiblat papat limo pancer. Ada yang memaknai kiblat papat limo pancer ini sebagai keseimbangan alam empat arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat (kiblat), yaitu Tuhan YME. 

Kiblat papat limo pancer ini dapat juga diartikan sebagai empat macam nafsu manusia dalam tradisi Jawa, yaitu nafsu marah, nafsu lapar, nafsu ingin memiliki sesuatu yg bagus, dan nafsu memaksakan diri. Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa. 

Kupat merupakan kependekan dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Itulah mengapa setiap Hari Raya Idul Fitri selalu ada tradisi saling memaafkan dan hidangan ketupat.

Referensi: Fan Page Kota Solo

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini