31 Juli 2013

"Lintang Luku", Tanda Dimulainya Musim Tanam

Seringkali dalam lirik tembang Jawa, kita menemukan nama-nama bintang yang tersemat di dalamnya. Kearifan lokal masyarakat Jawa zaman dulu yang telah mengenal ilmu perbintangan, menjadikan unsur-unsur tersebut menyusup pula ke dalam khasanah-khasanah sastra, dalam hal ini tembang. Seperti contoh dalam lirik Nyidam Sari ciptaan Andjar Any yang cukup puitis, “Sineksen lintange Luku, semana janji prasetyaning ati” (disaksikan bintang Luku, itulah janji kesetiaan hati). 
Rasi Orion yang pada masyarakat Jawa disebut lintang Luku. (Foto: dhoniblog.wordpress.com)
Dalam lirik tersebut, disebutkan bahwa bintang Luku menjadi saksi kesetiaan hati. Bintang Luku sendiri adalah sebutan masyarakat Jawa untuk Rasi Orion. Dan bagi masyarakat Jawa, bintang Luku ini memiliki arti yang amat penting karena menjadi patokan para petani zaman dulu untuk memulai bercocok tanam.

Dalam perhitungan ketentuan musim yang disebut pranata mangsa, munculnya bintang Luku yang jatuh pada bulan Agustus-September ini merupakan saat yang dinanti oleh para petani dan nelayan zaman dulu. Pada masa inilah tunas-tunas tanaman mulai tumbuh dan palawija baru saja dipanen. Tanda-tanda alam yang menunjukkan pranata mangsa musim ketiga (kemarau) ini adalah suhu udara yang amat panas di siang hari, namun pada malam harinya, suhu udara terasa sangat dingin. Selain bintang Luku tersebut, masyarakat Jawa juga mengenal beberapa bintang dan rasi berikut.
  • Lintang Gubuk Penceng, yaitu rasi yang membentuk formasi jajaran genjang dan merupakan penanda arah selatan.
  • Lintang Rina, yaitu bintang yang mencorong di langit timur tanda pagi telah tiba. 
Referensi: sosbud.kompasiana.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini