10 Juli 2013

Asmara (Selepas) Subuh

Datangnya bulan Ramadhan di Indonesia selalu dibarengi dengan kebiasaan-kebiasaan unik masyarakatnya. Beragamnya budaya dan kondisi geografis masyarakat Indonesia banyak memunculkan kebiasaan-kebiasaan unik berkaitan dengan datangnya Bulan Suci Ramadhan. 

Di Provinsi Sumatra Barat, yang notabene penduduknya mayoritas beragama Islam, ada sebuah kebiasaan unik yang tumbuh di kalangan muda-mudinya, yaitu yang biasa disebut asmara subuh. Asmara subuh adalah kegiatan berkumpulnya muda-mudi di beberapa daerah di Indonesia (terutama di wilayah Sumatra) selepas melaksanakan salat subuh. Biasanya mereka bergerombol di tempat-tempat umum seperti taman, pinggir sungai, atau pantai. Mereka ada yang berjalan kaki namun ada pula yang mengendarai kendaraan bermotor. 

Di tempat-tempat umum itulah muda-mudi dengan sarung dan mukena yang masih tersandang di badan, saling bergerombol, bermain-main, bercanda, dan bahkan memadu kasih, karena banyak pula muda-mudi yang memanfaatkan momentum asmara subuh ini sebagai sarana untuk bertemu kekasih. Bagi yang masih jomblo, tradisi asmara subuh ini pun tak sedikit yang memanfaatkannya sebagai ajang pencarian jodoh atau pacar. Mungkin karena alasan inilah mengapa kebiasaan ini kemudian disebut asmara subuh. 
Tak jarang asmara subuh diwarnai aksi kebut-kebutan para pemudanya. (Foto: antarasumbar.com)
Dalam perkembangannya, ada banyak pihak yang kemudian menyoroti kebiasaan asmara subuh ini di beberapa daerah. Selain terindikasi ada penyimpangan, terutama bila dikaitkan dengan hakikat sesungguhnya bulan Ramadhan, tak jarang pula asmara subuh ini dipakai sebagai ajang balap liar, terutama bagi mereka yang membawa kendaraan bermotor. Jadi wajar bila sejumlah pemerintah daerah merasa resah dan harus menurunkan Satpol PP untuk mengawasi kebiasaan asmara subuh ini. Ada benarnya juga, karena memang bulan Ramadhan yang hanya datang setahun sekali, seyogyanya mampu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat. Lantas, bagaimana kebiasaan setelah subuh di lingkungan Anda? 

Referensi: afriantodaud.wordpress.com

1 komentar: