25 Juni 2013

"Nyadran", Simbolisasi Hubungan Antarmanusia, Leluhur, dan Tuhan

Senin kemarin, ada salah satu teman kantor saya yang cuti dari aktivitas kerja dikarenakan adanya sebuah acara yang dilaksanakan secara turun-temurun di daerahnya, yaitu nyadran. Saya kemudian berpikir, alangkah meriah dan pentingnya acara tersebut, sampai-sampai teman saya tersebut menyempatkan diri untuk cuti dari kerja. 
Warga berbondong-bondong menuju makam leluhur. (Foto: soloposfm.com)
Menurut salah satu sumber yang saya peroleh, nyadran berasal dari bahasa Sansekerta, sraddha yang berarti keyakinan. Secara lebih sederhana, nyadran diartikan sebagai kegiatan membersihkan makam yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman Hindu-Buddha sebelum agama Islam masuk ke tanah Jawa. Setelah Walisongo menyebarkan Islam di tanah Jawa pada abad ke-15, beliau-beliau kemudian menggabungkan tradisi tersebut dalam dakwahnya. Nyadran kemudian bisa dipahami sebagai sebuah simbolisasi hubungan antara seseorang dengan leluhur, dengan sesama, dan dengan Tuhan. 

Nyadran biasanya dilaksanakan bertepatan dengan datangnya bulan Sya’ban dalam perhitungan kalender Hijriyah atau penanggalan Islam, yang jatuh sebelum datangnya bulan Ramadhan, atau dalam penanggalan Jawa disebut sasi Ruwah. 
Salah satu pemuka agama setempat memimpin pembacaan tahlil. (Foto: fotokita.net)
Salah satu daerah yang masih meriah dengan tradisi nyadrannya adalah Kabupaten Boyolali, tepatnya di Kecamatan Cepogo. Di kecamatan ini setiap menjelang Ramadhan, tradisi nyadran dilaksanakan dengan meriah dan melibatkan seluruh warga masyarakat yang ada. Tak sedikit warga asli daerah ini yang memanfaatkannya untuk bersilaturahmi dengan cara saling bertukar makanan. 

Ritual nyadran dihadului dengan pembacaan Surat Yasin pada malam harinya, sedangkan pada keesokan harinya setelah shubuh, warga melakukan acara bersih-bersih makam. Setelah itu, dilanjutkan dengan kegiatan nyadran. Pada acara nyadran inilah para warga membagi-bagikan makanan maupun jajanan pasar kepada para peserta nyadran. Makanan-makanan tersebut dimasukkan pada sebuah wadah dari anyaman bambu berbentuk bulat yang disebut tenong. Setelah ratusan tenong berisi makanan tersebut ditata rapi berjajar, salah satu pemuka agama setempat memimpin pembacaan tahlil. Selama pembacaan tahlil tersebut, seluruh warga yang hadir duduk mengitari tenong-tenong tersebut. Setelah pembacaan doa, mereka pun membuka satu persatu tenong-tenong tersebut dan berebut mengambil makanan serta jajanan di dalamnya. 
Aneka jajan pasar yang tersaji dalam tenong. (Foto: fotokita.net)
Setelah acara selesai para warga kemudian melakukan silaturahmi dengan mengunjungi rumah kerabat, maupun sanak saudara layaknya Idul Fitri. Maka, tak mengherankan bila banyak kerabat dari luar kota yang menyempatkan diri untuk mudik dan ikut bersilaturahmi pada acara nyadran ini. 

Pantas saja, begitu penting acara ini bagi teman saya tersebut.

Referensi: mengenalbudayajawa.blogspot.com, nasional.viva.co.id 

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini