03 Juni 2013

Hujan Bulan Juni

Bulan Juni sering mengingatkan saya akan sebuah puisi buatan tahun 1989, Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono. Sapardi Djoko Damono sendiri cukup dikenal sebagai seorang penyair yang piawai mengolah kata-kata sederhana menjadi kata-kata yang penuh makna. Beliau memberikan ruh pada kata-kata tersebut, meski pada kata-kata yang sederhana. 
Ilustrasi hujan di bulan Juni. (Foto: Google dengan olahan Photoshop)
Dalam puisi Hujan Bulan Juni, hujan tidak hanya dipandang sebagai butiran air yang jatuh dari langit, namun dimaknai sebagai jiwa yang memiliki sifat tabah, bijak, dan arif. Hujan juga dipersonifikasikan sebagai sesuatu yang mempunyai perilaku, seperti merahasiakan, menghapuskan, dan membiarkan. Jika dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari di mana puisi itu dicipta, yaitu tahun 1989, adalah hal yang rasanya mustahil, menjumpai hujan di bulan Juni, di mana bulan Juni, secara perhitungan waktu itu, adalah bulan di mana musim kemarau bergulir. 

Tapi kini, bulan Juni tidaklah identik dengan musim kemarau. Pemanasan global ternyata telah menggeser ‘pakem’ bahwa Juni adalah termasuk dalam musim kemarau. Terutama di Pulau Jawa, saya amati hujan terus turun sepanjang Januari, Februari, Maret, sampai Juni hari ini. 

Itulah temuan kecil, bahwa perubahan iklim karena pemanasan global telah menggeser sisi-sisi romantisme sebuah puisi.

Referensi: bektipatria.blogspot.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini