15 Maret 2013

Bogor, antara Hujan dan Angkot (Bag. 2)

Pada tulisan terdahulu, saya pernah menulis sedikit tentang kota Bogor yang saya rangkum dari beberapa sumber di internet, karena pada waktu itu saya belum pernah sekalipun mengunjungi Kota Hujan tersebut. 

Dan akhirnya, Minggu 10 Maret 2013 jam 09.30 WIB kemarin, untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah kota Bogor, tepatnya di depan Masjid Raya Bogor setelah turun dari bus Rosalia Indah yang membawa saya dari Solo menuju Bogor. Tujuan saya ke Bogor kali ini adalah untuk membantu proses mutasi kerja istri saya yang baru delapan hari saya nikahi, ke salah satu kantor cabang yang ada di kota Solo. Ya, istri saya memang sudah hampir 4 tahun bekerja di Bogor, dan pasca menikah kali ini, ia memilih merelakan masa-masa indah bekerja di Bogor untuk tinggal bersama saya di Solo. Toh ia juga berasal dari sebuah kabupaten tak jauh dari kota Solo.
Pemandangan kawasan Batutulis, Bogor. (Foto: pleisbilongtumi.wordpress.com)
Kesan pertama saat tiba di kota Bogor adalah rindangnya pepohonan di kanan-kiri jalan yang terdiri atas banyak pohon besar. Dan kebetulan waktu itu adalah hari Minggu, maka kemacetan pun langsung bisa saya saksikan di jalan-jalan utama di kota tersebut. 

Selama di Bogor, saya tinggal di kamar kontrakan istri saya yang terletak di sebelah barat Stasiun Batutulis, Bogor. Jam operasional angkot Bogor yang 24 jam, membuat kota ini tetap ramai meski di jam-jam larut. Tapi di sisi lain, jumlah angkot yang melimpah tersebut menimbulkan masalah tersendiri bagi kota Bogor, yaitu kemacetan. Pengalaman menyusuri jalan-jalan di kota Bogor menggunakan kendaraan motor bersama istri saya, banyak mendapati angkot yang sembarangan menurunkan penumpang di tengah jalan. Dan ini sangat mengganggu dan berbahaya bagi pemakai jalan yang lain. Selain itu, ada juga fenomena diterobosnya jalan satu arah oleh kendaran bermotor maupun mobil. Mungkin karena macet, jadi hal itu sudah terlihat lumrah di kota Bogor. Jalur pejalan kaki yang kelihatannya sudah lama dibangun pun banyak digunakan oleh pedagang kaki lima untuk berjualan. Alhasil, saya sering “mengalah” dan mengambil jalan agak ke tengah saat jalan-jalan sore di kota itu untuk mengisi perut. 

Meski begitu, tentu saja ada sisi positif dari kota Bogor yang bisa saya sebutkan pula, di antaranya adanya beberapa museum yang dikelola dengan sangat baik, seperti museum Etnonotani, museum Zoologi, museum Tanah, serta museum Perjuangan. Selain itu keberadaan Kebun Raya Bogor juga menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke kota ini. Letak kota Bogor yang berada di dataran tinggi pun, membuat kota ini mempunyai hawa yang sejuk dan cukup pas untuk kawasan hunian. 

Itulah sedikit catatan perjalanan saya di kota Bogor, dengan harapan suatu saat saya dapat berkunjung kembali ke kota tersebut. Semoga pembenahan terus dilakukan oleh kota ini agar hal-hal negatif seperti yang saya sebut di atas dapat dikikis. Semoga saja!

4 komentar:

  1. Saya harap suatu saat bisa juga menginjakkan kaki di Bogor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalo dari Makassar agak jauh pasti...

      Hapus
  2. Saking banyaknya angkot itu, kita ga' perlu nunggu lama-lama untuk dapat angkutan, karena sebentar-sebentar pasti ada angkot lewat. Tapi kondisi lalu lintasnya jadi semrawut. Untung di Solo gak seperti itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, dan banyak yang bilang kondisi ini udah parah.. hehe, semoga Solo tidak samopai begitu...

      Hapus

Komentar Terkini