04 Januari 2013

Asal Mula Tradisi "Sekaten"

Sekaten berasal dari kata dalam bahasa arab syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat. Konon, acara Sekaten tersebut dahulu didesain oleh Wali Songo untuk memeringati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai media mengajarkan agama Islam. Sekaten pertama kali dimulai sejak masa kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu kerajaan Demak dan turun-temurun sampai era kerajaan Surakarta dan Yogyakarta saat ini. 
Bianglala Sekaten. (Foto: Cahyo Ginak Ginuk)
Kala itu, Raja Demak pertama, yaitu Raden Patah mengadakan pertemuan dengan Wali Songo yang terdiri atas Sunan Ampel, Sunan Gresik, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, dan Sunan Gunung Jati untuk membahas cara menyiarkan agama Islam di Jawa, termasuk mengenalkan hari-hari besar Islam pada masyarakat Jawa waktu itu. 

Karena saat itu orang Jawa suka gamelan, maka pada Hari Raya Islam, untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, di sekitar masjid diusulkan dibunyikan gamelan agar orang-orang tertarik untuk datang. Nantinya jika orang-orang sudah berkumpul, akan diberi pelajaran tentang agama Islam. Usul tersebut kemudian disetujui oleh para wali dan segera dilaksanakan. Pada hari lahir Nabi Muhammad SAW, yaitu tanggal 12 Mulud penanggalan Jawa atau 12 Rabi’ul Awal penanggalan Islam, di sekitar masjid ditabuhlah gamelan. Benar juga, ternyata banyak orang yang berduyun-duyun datang ke masjid untuk mendengarkan bunyi gamelan. Saat itu di sela-selan gamelan ditabuh, para wali bergantian berdakwah mengajarkan agama Islam ke orang-orang yang datang tersebut. 

Saat ini rangkaian acara Sekaten menjadi acara budaya, pariwisata, dan sekaligus acara bisnis masyarakat yang dikemas menjadi acara Grebeg Sekaten atau Grebeg Maulud (karena diadakan di bulan Mulud, tahun Jawa). Dan berikut adalah rangkaian acara Sekaten di Solo.
  • Tabuhan Gamelan Pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Acara ini diadakan pada tanggal 5 Mulud yang dimulai dengan memindahkan sepasang gamelan tersebut dari keraton ke bangsal Masjid Agung Solo yang selanjutnya ditabuh secara bergantian. Acara ini sekaligus sebagai acara penanda pembuka Grebeg Maulud. Sepasang gamelan tersebut terus ditabuh bergantian hingga menjelang pelaksanaan Grebeg Gunungan Sekaten sekitar tujuh hari kemudian.
  • Jamasan Meriam Pusaka Kyai Setomi. Membersihkan meriam pusaka kraton yang terletak di Bangsal Witono, Sitihinggil Utara Keraton Kasunanan Surakarta. Acara ini dilakukan dua hari sebelum Grebeg Gunungan Sekaten. 
  • Pengembalian Gamelan Pusaka ke dalam keraton. Pagi hari pada hari puncak Sekaten sebelum pemberian sedekah Raja, para abdi dalem keraton mengembalikan gamelan ke Keraton kembali. Gamelan Kyai Guntur Madu langsung dimasukkan ke dalam ruang pusaka, sedangkan Kyai Guntur Sari dibawa ke depan Sasana Sewaka dan ditabuh kembali untuk mengiringi Hajad Dalem Gunungan Sekaten ke Masjid Agung. 
  • Pemberian sedekah Raja berupa gunungan di Masjid Agung. Acara puncak Grebeg Maulid adalah tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu tanggal 12 Mulud pada penanggalan Jawa atau 12 Rabi’ul Awal pada penanggalan Islam. Pada hari tersebut Raja memberikan sedekah kepada rakyatnya berupa makanan tradisional dan hasil bumi yang disusun dalam bentuk sepasang gunungan, yaitu gunungan jaler (laki-laki) dan gunungan estri (perempuan). Gunungan ini diarak menuju Masjid Agung oleh seluruh sentana, abdi dalem, dan para prajurit dan kemudian didoakan oleh ulama Keraton di Masjid Agung Solo. Setelah didoakan, kemudian gunungan tersebut dibagikan kepada seluruh warga. Biasanya warga langsung berebutan mengambil bermacam-macam hasil bumi tersebut. 
Itulah sedikit pengetahuan sejarah tentang perayaan Sekaten di Kota Solo.

Referensi: andhysukma.com

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini