16 November 2012

Sejarah Kirab 1 Suro

Kirab 1 Suro adalah agenda tahunan yang dilaksanakan oleh Keraton Surakarta di malam pergantian tahun Jawa. Di malam tersebut, pusaka-pusaka milik keraton dikirab berkeliling tembok keraton. Nah, berikut saya sampaikan secara singkat asal-usul laku kirab tersebut.
Kerbau albino yang dikirap abdi kraton. (Foto: Google)
Pada tahun 931 Hijriyah atau 1443 tahun Jawa Baru, yaitu pada zaman pemerintahan Kerajaan Demak, Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu. Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin “menyatukan Pulau Jawa”. Oleh karena itu, beliau ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi disebabkan karena perbedaan keyakinan agama. Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan, maka pada setiap hari Jumat Legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Sunan Ngampel dan Sunan Giri. Akibatnya, 1 Muharram (1 Suro) yang dimulai pada hari Jumat Legi ikut-ikut dikeramatkan pula, bahkan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut di luar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul. 

1 Suro menurut orang Jawa menandai bergantinya Naga Dina dan Naga Tahun, yakni berubahnya sifat dan karakter kosmis, berserta dunia gaib, yang secara langsung diyakini mempengaruhi kehidupan manusia di bumi. Orang Jawa melengkapi ritual kehidupan tersebut sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Maha Tinitah, yang diyakini sebagai Dzat Suci yang memberi hidup dan menghidupi. Oleh sebab itu, pergantian tahun adalah terjadinya pergantian kosmis, yang disebut sebagai siklus Cakramanggilingan. Kehidupan diasumsikan berputar silih berganti seperti berputarnya roda. Ada saat zaman keemasan (age d’or), ada saat juga zaman mengalami masa kegelapan/kalabendu (age d’sombre). Di zaman yang bergulir itulah manusia harus selalu eling (ingat) dan waspada. 

Bagi raja, sebagai rasa tanggung jawab kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya, yang telah memberikan kuasa kepadanya, maka raja melakukan kirab untuk menjenguk setiap sudut rumah warga, dengan harapan, tuah dan berkahnya dapat memasuki setiap pintu rumah-rumah penduduk. Raja beserta pusaka-pusakanya adalah manifestasi yang sama untuk mempromosikan dan menjelaskan secara simbolik antara raja dengan masyarakatnya. Di sisi lain ini adalah bentuk pengaplikasian Rukun Jawa yang kelima, yaitu Laku (Rukun Jawa antara lain: Rukun, Hormat, Halus, Asih, dan Laku). Rukun yang terakhir itulah yang dijalankan oleh orang Jawa, yaitu berjalan mengelilingi keraton tujuh kali. Di setiap pojok keraton mengucapkan puja dan puji syukur, disertai dengan permohonan-permohonan. Maka, Malam 1 Suro adalah salah satu wujud hubungan antara manusia dengan Khaliknya dalam upaya mencari keseimbangan dan keserasian hidup dengan penuh harap di tahun mendatang untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Referensi: dari berbagai sumber

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini