19 September 2012

Kuliner Malam Kota Solo

Pemberlakuan wajib lembur di tempat saya bekerja yang sudah berjalan sekitar setengah bulan ini, membawa konsekuensi mundurnya jam pulang kantor saya. Jam pulang kantor yang semula pukul 16.00 WIB, mundur 2 jam menjadi pukul 18.00 WIB. Dampaknya, tentu saja salah satunya adalah rasa lebih lelah dari biasanya yang saya rasakan. Namun di balik rasa lelah itu, mundurnya jam pulang kantor saya tersebut membawa juga sisi-sisi positif, yaitu salah satunya saya menjadi lebih sering menikmati suasana malam di kota Solo ketika perjalanan pulang. 
Aneka hidangan di wedangan. (Foto: surakarta.go.id)
Berbicara tentang suasana malam di kota Solo memang tidak akan ada habisnya. Kerlap-kerlip lampu kota yang berpadu dengan keramaian tempat-tempat makannya seolah hendak memanjakan kita dan membuang jauh-jauh penat dan lelah di pikiran kita. Bermula dari kawasan Kartasura, daerah tempat saya bekerja, di sepanjang kiri dan kanan jalan ramai dijajakan pilihan menu makan malam yang saya yakin semua mempunyai keistimewaan. Mulai dari bebek goreng, ayam bakar, sate, sea food, nasi liwet, soto, dan masih banyak lagi. Mendekati kawasan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), aneka sajian khas mahasiswa banyak terjaja di sini. Mengingat kawasan ini adalah kawasan mahasiswa, saya yakin harga yang dipatok pun sedikit ekonomis. Bergeser ke arah timur, akan sampailah kita di kawasan Solo Square yang menurut pandangan saya selalu ramai hampir di setiap malamnya. Di mall ini, banyak tenant bermerek yang bernaung. 

Dari arah Solo Square menuju utara, kita akan sampai di kawasan Manahan. Inilah barangkali yang menjadi tempat nongkrong favorit kaum muda Solo. Di sini kita akan menjumpai banyak HIK/wedangan dengan suasana nyaman yang pas untuk menghabiskan malam. Dari kawasan Manahan, saya biasanya menuju kawasan Pasar Nongko. Dari kawasan Manahan menuju pasar Nongko, kita akan melewati cukup banyak tampat makan bergaya resto yang semuanya seolah bersaing untuk menarik pelanggan. 

Dari Pasar Nongko ke arah timur, kita akan sampai kawasan Stasiun Solo Balapan Solo. Bagi sebagaian orang, kawasan ini dianggap sebagai ‘area hitam’ kota Solo, pasalnya di sebelah selatan Solo Balapan ini terdapat banyak hotel kelas melati yang identik dengan prostitusi, plus para wanita penjaja cinta itu sendiri. Solo Balapan ke arah timur, sampailah kita di perempatan Panggung Tirtomoyo yang juga tak kalah ramai dengan aneka warung kulinernya. 

Memasuki kawasan belakang kampus Institut Seni Indonesia dan UNS Solo, keramaian akan sangat kita rasakan, pasalnya di kawasan inilah bermukim para mahasiswa yang sehari-hari menimba ilmu di kampus ISI dan UNS Solo. Dan tentu saja banyak sekali aneka kuliner murah meriah yang terjaja di sini, mulai dari menu bakar-bakaran, penyet-penyetan, steak, maupun jajanan-jajanan yang sedang populer belakangan ini, yaitu bakso bakar. 

Itulah sedikit gambaran suasana perjalanan saya sepulang kerja, yang secara tidak langsung menjadi pengobat lelah saya setelah seharian bekerja. Solo, The Spirit of Java.

4 komentar:

  1. ngiler liat makanannya, andalan smua tuh, wenak...wenak...wenak...

    BalasHapus
  2. Dari kapan-kapan mau nyobain bakso bakar belum kesampaian hehehe
    Enak gak sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bakso bakar tergantung bumbunya sih, Mbak.

      Hapus

Komentar Terkini