06 April 2011

Memaknai Perpisahan

Ilutrasi perpisahan. (Foto: erulkan.blogspot.com)
Senin (4/04) kemarin, salah satu teman kantor saya ada yang memutuskan untuk resign dari kantor karena alasan yang saya sendiri tidak mengetahuinya. Siang itu juga dia berpamitan menjabat tangan kami satu persatu. Beragam reaksi muncul dari raut muka kami yang dipamiti. Ada yang sedikit haru, ada yang tetap memberikan semangat, juga ada pula yang biasa-biasa saja. Berbicara tentang perpisahan, saya jadi teringat sebuah lirik lagu yang menyebutkan bahwa perpisahan dan pertemuan itu hal yang sama-sama nikmat, tergantung bagaimana cara kita menghayati dan di belahan jiwa yang mana kita menyembunyikan perasaan 'luka' karena kehilangan tersebut. Perpisahan dengan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidup kita memang sesuatu yang tidak mengenakkan dan sudah pasti tidak kita inginkan. Meski begitu, kondisi tersebut adalah kenyataan yang menjadi konsekuensi dari adanya pertemuan. Dan benar kata pepatah, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Menyikapi dengan bijak adalah salah satu cara untuk memaknai sebuah perpisahan. Selain itu ada satu hal yang masih bisa kita lakukan dengan leluasa, sama seperti saat seseorang tersebut berada di sisi kita, yaitu dengan menyimpan semua kenangan tentang dia di sudut hati kita yang paling dalam.

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini