26 Juni 2009

Bengawan Solo di Era Facebook

Setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di tepian Bengawan Solo, Rabu (24/06) kemarin, saya akhirnya kesampaian juga untuk turun ke sana sambil mengambil beberapa foto via ponsel yang saya bawa. Saya pun teringat akan sebuah lagu karya maestro keroncong, Gesang, yang menceritakan keindahan, keelokan bahkan kemasyuran Sungai Bengawan Solo yang memang sudah terkenal sejak jaman dulu ini.
Bengawan Solo di era kini. (Foto: Arie Kurniawan)
Sungai Bengawan Solo era sekarang, bila dibandingkan dengan masa ketika Gesang menciptakan lagu Bengawan Solo (sekitar tahun 40-an), memang sudah sangat berbeda sekali kondisinya. Namun bila saya coba mengingat kembali kondisi di sungai ini yaitu sekitar 5-10 tahun yang lalu, nampaknya tidak ada perbedaan yang berarti pada sungai ini. Dalam artian, bila kita memperhatikan lingkungan pemukiman di sekitar Bengawan Solo, kita akan menemukan perbedaan yang mencolok dengan kondisi sekitar 5-10 tahun yang lalu. Namun bila kita coba turun ke kalinya, bila memungkinkan, kita bisa menyentuh airnya, maka kondisinya hampir sama dengan kondisi sekitar 5-10 tahun yang lalu, di mana teman-teman saya dulu sering bermain-main menghabiskan waktu di tempat itu. Banyak sekali memang cerita ataupun legenda tentang sungai ini. Selain itu, seperti layaknya sungai-sungai besar di dunia yang pernah menjadi pusat peradaban, sungai ini juga bisa dibilang pernah menjadi pusat peradaban bagi manusia di sekitarnya. Kita bisa mencoba membuka kembali pelajaran sejarah tentang manusia purba di Indonesia, bahwa di tepian sungai ini pernah ditemukan fosil manusia purba. Dan ini membuktikan hal tersebut di atas.

Begitulah Sungai Bengawan Solo. Bila ia bisa bercerita, pasti akan banyak sekali cerita yang bisa kita dengar dari dia. Atau barangkali sebuah pesan untuk kita agar kita tetap menjaga kelestariannya.

1 komentar:

  1. homo erectus di Trinil ya?
    Pithecanthropus Erectus kah?

    BalasHapus

Komentar Terkini