05 Februari 2009

Romantisme Hujan

Akhir tahun 1989, itulah saat pertama saya menginjakkan kaki di kota tempat saya tinggal sampai sekarang ini, kota Solo. Saya ingat seekali, sore itu hujan sedang turun ketika saya tiba untuk pertama kalinya di kota Solo. Dan memori inilah yang paling kuat tersimpan di ingatan saya sampai sekarang, yaitu memori tentang hujan kala itu.
Melihat hujan. (Foto: Google)
Dan kini, dua puluh tahun sudah berlalu dari moment itu, saya pun masih sering menjumpai hujan di tempat tinggal saya (terlalu sering bahkan), terlebih-lebih di dua bulan belakangan ini. Namun, entah kenapa hujan zaman dahulu berbeda sekali suasananya dengan hujan-hujan yang turun beberapa tahun balakangan ini. Sudah sampaikah isu global warming menyentuh sisi romantisme sebuah hujan? Ternyata tidak hanya lingkungan dan iklim saja yang terkena imbas global warming, namun juga sudah menyentuh pada nilai-nilai abstrak yang ada di tengah-tengah masyarakat, yaitu nilai sosial.

Banyak lagu yang tercipta dari banyak musisi yang bercerita ataupun terinspirasi dari hujan, sebut saja Rhytm of The Rain ataupun Have You Ever Seen The Rain. Saya khawatir, bila hujan kehilangan sisi romantisnya, maka akan sedikit susah pula kita menemukan ataupun menjumpai nyanyian-nyanyian dan juga sajak-sajak tentang hujan. Maka, marilah kita jaga agar hujan tetap romantis. Dengan cara kita sendiri tentunya.

0 Komentar:

Posting Komentar

Komentar Terkini