13 November 2015

08 September 2015

Oblak itu Datang dari Shockbreaker Depan

Pada tulisan terdahulu, saya pernah curhat tentang sensasi ‘oblak’ yang saya rasakan pada Supra X 125 saya, bahkan setelah saya mengganti komstirnya dengan yang original. Hari Minggu (6/9) kemarin bertepatan dengan waktu untuk servis rutin di bengkel, saya pun meminta sang mekanik untuk sekalian mengecek shockbreaker depan HSX 125 saya.

Setelah spakbor depan dibuka, terlihat rembesan oli yang terdapat pada as shock depan sebelah kanan. Setelah semua komponen dibuka barulah terlihat goresan kecil pada tabung asnya. Inilah celah yang membuat oli shockbreaker merembes dan membuat volume oli berkurang sehingga shockbreaker menjadi tidak seimbang. Dan ketidakstabilan inilah yang membuat shockbreaker seperti oblak, mirip dengan oblaknya komstir.

Penjelasan Sang Mekanik, goresan pada as shockbreaker depan ini biasanya disebabkan karena kotoran (umumnya pasir) yang menyusup ke dalam sil dalam waktu yang cukup lama. Mungkin karena posisinya yang tertutup spakbor, bagian ini sering luput dari perhatian. Kalau sudah begini, mau tidak mau memang harus dilakukan penggantian dengan tabung as yang baru. Tabung as yang bagus dan berkualitas tentu saja yang direkomendasikan oleh pabrik. Berhubung harganya yang masih selangit dan saya memang tidak menyiapkan anggaran khusus untuk servis kali ini, opsi saya jatuhkan pada tabung as merek TSENG buatan Tiongkok dengan harga Rp95.000 sepasang.

Setelah semua part dipasang kembali, memang benar sensasi oblak itu pun hilang dan handling jadi lebih stabil. Meski bukan original part, kesan di awal penggunaan saya rasakan nyaman-nyaman saja. Tapi bagaimana setelahnya? Itulah yang ingin saya pantau berkaitan dengan kualitas merek ini. Tentunya hal ini harus dibarengi dengan perawatan yang baik pada part ini. Nantikan saja posting saya selanjutnya.

Salam!

01 September 2015

Bertahun-tahun, Traffic Light Belakang UNS Dilanggar Pengguna Jalan

Dahulu sekali, saya pernah menulis tentang traffic light di belakang UNS Solo yang diacuhkan para pengguna jalan. Ya, sejak dipasang sampai detik ini, menurut pengamatan penulis, satu-satunya traffic light yang ada di Jalan Ki Hajar Dewantoro tersebut tidak efektif dalam mengatur lalu lintas di kawasan tersebut. Pasalnya, sebagian besar pengguna jalan tidak menaati traffic light tersebut. Hanya ada beberapa pengguna jalan yang kebanyakan, menurut pantauan penulis adalah mobil berpelat nomor luar kota.
Traffic light belakang UNS dalam sebuah meme. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Memang sangat ironis, sementara kawasan tersebut adalah kawasan hunian para mahasiswa yang notabene berpendidikan. Dengan adanya fenomena tersebut, sudah cukup membuktikan bahwa tingkat kedisiplinan seseorang tidak ada kaitannya dengan tingkat pendidikan. Jadi, sampai kapan traffic light tersebut mau dilanggar?

27 Agustus 2015

Menikmati Masakan Jawa di Warung Ijo Solo

Makan siang hari ini, sengaja saya makan siang di tempat makan yang letaknya lumayan jauh dari tempat kerja saya. Pilihan saya jatuh pada sebuah tempat makan prasmanan bernama Warung Ijo yang terletak di Jalan Mr. Sartono Solo, yaitu perempatan utara SMA 5 Solo ke arah barat sekitar 100 meter. Ini adalah kali pertama saya mencoba masakan Jawa di warung ini. Rekomendasi untuk mencoba makan siang di tempat ini datang dari adik saya yang memang sudah biasa makan siang dengan menu dari warung ini.
Suasana prasmanan di Warung Ijo. (Foto: Dokumentasi pribadi)
Tempatnya cukup bersih dan luas untuk ukuran warung makan. Karena saya datang di saat jam makan siang, maka suasana warung pun cukup ramai dengan konsumen yang sedang makan siang. Pilihan menu makan di warung ini juga terbilang komplit. Jadi meski Anda datang hampir setiap hari ke tempat ini, Anda tidak akan merasa jenuh dengan menu dan lauknya. Soal rasa, Anda tak perlu risau. Dalam skala 0 – 10, saya beri nilai 8,5 untuk urusan rasa di warung ini. Harganya pun cukup terjangkau. Penasaran? Silakan Anda mencoba!